Dreamland
>
Berita
>
Article
Pelajar Indonesia Ikut Debat Internasional, Sejumlah Netizen Malah Meremehkan dan Nyinyir
12 Agustus 2017 17:00 | 10265 hits

DREAMERS.ID - Sejumlah pelajar SMA yang mewakili Indonesia dalam kompetisi debat internasional di Bali seharusnya mendapat respon baik karena membanggakan tanah air. Namun ada saja sejumlah netizen yang meremehkan kegiatan debat dan malah mempertanyakan gaya pakaian mereka dalam ajang dunia tersebut.

Dilansir dari BBC Indonesia, Nicholas Christianto, Ngurah Gede Satria Aryawangsa, Gracesenia Cahayadinata, dan Stephanie Elizabeth Purwanto telah menjalani proses diseleksi sejak tahun lalu ini beradu dalam ajang World Schools Debating Championship (WSDC) di Bali hingga 11 Agustus. Mereka bersaing dengan lebih dari 50 negara lain dalam debat bertema toleransi dan keberagaman.

Untuk mengikuti ajang ini, mereka harus banyak membaca dan berlatih debat bahasa Inggris dengan tim debat yang lebih senior, yaitu mahasiswa dari Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. Mereka juga rutin membaca berbagai berita internasional di antara lain majalah terkenal dunia, The Economist dengan topik seputar politik, sejarah, hingga konflik timur tengah.

Yang mengagetkan, artikel soal kiprah mereka di laman Facebook Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI malah direspons nyinyir oleh sejumlah pengguna. Junaedi Rechan misalnya mengatakan, "Apa yang diharapkan dan di banggakan (dibanggakan) dari TUKANG DEBAT?"


Lainnya malah menyoroti pakaian yang dikenakan peserta. "Benerin pakaiannya," kata Sudadi Allio Aliya. "Anda berdebat mewakili negara sedangkan pakaian Anda saja layak diperdebatkan," tulis Fachri Noer.

Tim pelajar Indonesia mengaku cukup kecewa dengan berbagai komentar itu. "Sangat disayangkan, kita hidup di komunitas di mana seseorang bisa menghakimi orang lain dan menilai seperti apa orang lain itu dengan bagaimana orang itu berdandan," kata Nicholas.

"Kita cukup kecewa karena mereka tidak bisa melihat bahwa dalam acara lain, cultural night (misalnya) kita pakai kebaya, dan di sesi debat, kita pakai batik. Itu yang mereka tidak lihat dan menafsirkan berdasarkan satu gambar," kata Stephanie. Ia menambahkan bahwa komentar-komentar semacam ini justru alasan mengapa anak-anak muda butuh banyak berlatih debat, karena debat bisa membuat pikiran lebih terbuka.

"Di Indonesia debat masih dalam proses perkembangan, tapi di dunia internasional debat sangat dihargai. Kami mencoba daftar ke beberapa universitas Amerika dan mereka sangat tertarik dengan (kegiatan) debat (kami). Karena debater itu punya kemampuan pemikiran kritis, tidak hanya pintar baca buku tetapi bisa menganalisa," kata Gracesenia.

Namun selain komentar negatif itu, banyak pengguna media sosial memberikan dukungan, seperti "proud of you guys! I wish waktu saya seumuran kalian, saya bisa sehebat kalian!!!" Sebagian juga balik mengkritik orang-orang yang berkomentar negatif dengan mengatakan, "Welcome to Indonesia, budayakan nyinyir sejak dini sampai mati... Mantap-mantap komennya. Apapun prestasimu, nyinyir yang akan kamu dapatkan."

Ada pula netizen yang menjadikan ini sebagai bahan refleksi untuk Kemendikbud. "Dear Kemendikbud, dari komentar-komentarnya keliatan loh Indonesia darurat pendidikan berkualitas," tulis seorang pengguna.

(fzh)

SUBSCRIBES
'debat'
Komentar
RECENT ARTICLE
Advertise with Us
sales & marketing : sales@dreamers.id
enquiries : info@dreamers.id
Get Our Application for Free
MOST POPULAR
BACK TO DREAMLAND | TOP | View Desktop Version
CONTACT US
Dreamers.id
dreamersradio