Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
google plus dreamers
How It Works?
Dreamland
>
Fan Fiction
DIFFERENT DIMENSION
Posted by KaptenJe | Kamis,01 Juni 2017 at 16:33
8
10377989
Status
:
Complete
Cast
:
BTS Jin, V, Jungook, Jimin EXO Suho, D.O.,Baekhyun, Sehun, Chanyeol, Chen AOA Hyejeong, Miss A Suzy,
DIFFERENT DIMENSION

CHAPTER 44 : The Battle For Happiness

"TAEHYUNG AAAAA!!!!!!!" Pekik Jaehee histeris. "Wae~ hikss wae neo, Wae.. kau selalu berlagak seperti anak kuat yang dapat melindungi apapun.. hikss kau hanya anak bodoh yang seeing kali melakukan kesalahan.. hhhh! hikss Mianhae.. hikss…hikss mianhae Taehyung-ah. Maafkan kebodohan ku yang gagal melindungi mu ini hhhiks.. ", isak Jaehee. Ia semakin terpuruk setelah membaca surat yang ditulis Taehyung untuknya. "Kau bodoh Moon Jaehee...hiks...kau manusia terbodoh yang ada di muka bumi ini..hikkss..hngg...", gumamnya sambil mulai memukuli dirinya sendiri. "KAU BODOH!!", jeritnya histeris sambil terus memukuli dirinya sendiri hingga tiba-tiba muncul dua tangan lainnya menahan kedua tangannya.

"Jaehee-ah geuman!", seru Kyungsoo yang bergegas menghampiri Jaehee ketika ia mendengar yeoja itu berteriak-teriak histeris. Ia segera memeluk Jaehee dan mencoba menenangkannya.

"Bunuh aku...bunuh saja aku!! Hikss...karena kecerobohanku...a-aku harus kehilangan adikku..hikss...hhh...lebih baik aku mati...bunuh saja aku Kyungsoo-ya...BUNUH AKU SEKARANG!! AAARGGH", jerit Jaehee histeris.

Kyungsoo semakin mengeratkan pelukannya mempersempit ruang gerak Jaehee. Air mata perlahan kembali menetes membasahi wajahnya yang mulai terlihat pucat. Hatinya terasa begitu sesak melihat keadaan Jaehee yang semakin memburuk. "Hh....kumohon hentikan Jaehee-ah...hiks", isaknya pelan. "Kau tak boleh seperti ini...kau harus kuat agar kau bisa menyelamatkan Taehyung", gumam Kyungsoo membelai kepala Jaehee pelan.

"Taehyung...hhiks....Taehyung-ah....mianhae....hikss...Taehyung....eeerrgh!!", erangnya sambil mencengkeram kuat baju Kyungsoo.

"Menangislah...lampiaskan semua rasa sakitmu jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik", gumam Kyungsoo. Ia sempat merasakan pukulan-pukulan dipunggungnya bersamaan dengan nama Taehyung yang terus meluncur dari mulut Jaehee. Tak lama kemudian, pukulan-pukulan itu semakin mereda begitupun dengan suara Jaehee yang sudah mulai kelelahan. "Taehyung-ah...h-hiks....Taehyung-ah...hnngh..", Isaknya pelan.

Kyungsoo melepaskan pelukannya dan menyangga tubuh Jaehee yang terlihat sudah sangat lemas dengan kedua tangannya. Ia menyandarkan tubuh yeoja itu pada salah satu rak lalu menangkup wajah Jaehee dengan kedua tangannya. Ia menatap lekat wajah Jaehee yang biasanya selalu terlihat cerah dan ceria kini berubah pucat dan redup. Hilangnya Taehyung merenggut semua keceriaan dalam dirinya. Melihat wajah Jaehee yang memucat dan lesu, ia merasa seperti tengah bercermin. Wajahnya sendiri tak kalah pucat karena tekanan yang diterimanya semenjak pertemuannya dengan Jaeyoo beberapa hari yang lalu. Suara itu terus menerus meneror dan mengganggunya ditambah lagi melihat kondisi Jaeheee, yang selalu membantunya mengontrol dirinya, sedang dalam keadaan tertekan dan ia bahkan tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Hal tersebut memaksa Kyungsoo untuk mengontrol dirinya sendiri agar tidak "meledak" secara tiba-tiba di tengah kondisi yang tengah kalut seperti ini.

"Taehyung-ah...hiks...", panggil Jaehee lirih dalam keadaan setengah sadar. Kedua matanya terpejam namun air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi wajahnya. "Izinkan aku menolongnya Kyungsoo-ya...hikss...ia belum terangkap..hikss...ia..hngnggh...ia bertahan sendiri di luar sana...hiksss...percayalah padaku..jebal...hiks....jebal...hiks", isaknya sambil memohon memegangi baju Kyungsoo.

"Mian..geundae-"

"AAARGGH!!", pekik Jaehee histeris memotong ucapan Kyungsoo sambil mendorongnya kesal. Ia tahu bahwa Kyungsoo pasti akan melarangnya sama seperti anak-anak lainnya. "KENAPA TAK ADA YANG PERCAYA PADAKU?! Hikss...hhh....ADIKKU BELUM TERTANGKAP!!", jeritnya histeris.

"A-apa yang terjadi?", gumam Joonmyeon yang tiba-tiba datang setelah mendengar jeritan Jaehee. Ia melihat Kyungsoo tersungkur di hadapan Jaehee setelah gadis itu mendorongnya tadi. Ia kemudian melihat Jaehee yang terlihat begitu terpuruk tengah memukuli dirinya sendiri. Perasaan sesak turut memenuhi batinnya. "Jaehee-ah andwae-", gumamnya sambil berjalan mendekati Jaehee.

"ANDWAE!", seru Kyungsoo tiba-tiba membuat Joonmyeon mematung pada posisinya. Kyungsoo terbangun dari posisinya dan kembali menghampiri Jaehee yang masih memukuli dirinya sendiri. Ia memegangi kedua tangan gadis itu. "Geumanhae Jaehee-ah jebal", ujarnya pelan, namun Jaehee tetap memberontak.

"ANDWAE!! LEPASKAN AKU!!! Hikss aku lebih baik mati daripada harus kehilangan adikku dengan cara seperti ini..hikss...LEPASKAN AKU!!", pekiknya mencoba memberontak.

"YA GEUMANHAE!!!!!", bentak Kyungsoo kesal. Suaranya terdengar dua kali lebih besar dari jeritan Jaehee karena rasa frustasi yang tak bisa dibendungnya lagi. Guratan-guratan hitam muncul lalu menghilang di wajahnya dan matanya sempat memancarkan warna hitam selama beberapa saat lalu kembali normal. Joonmyeon terkejut mendengar reaksi Kyungsoo. Begitupun Jaehee yang sontak terdiam lalu kembali menangis tersedu-sedu tak lama kemudian.  Yeoja itu menyeret dirinya mundur menjauh dari Kyungsoo.

"M-mianhae....", gumam Kyungsoo menyadari bahwa ia baru saja membuat Jaehee ketakutan padahal sebelumnya yeoja itu tak pernah takut sedikitpun padanya meskipun monster dalam dirinya tengah muncul.            

"Taehyung...hiks...Taehyung...", isak Jaehee menangis tersedu-sedu di salah satu sudut Third eye.

Kyungsoo menghela nafas pelan, lalu kembali mendekati Jaehee perlahan. Ia dengan hati-hati menyentuh kedua pundak Jaehee. "Kumohon dengarkan aku dulu...aku percaya padamu tapi dengan keadaanmu yang seperti ini kau tak akan bisa menolongnya Jaehee-ah. Kekuatan dimension hoppingmu juga tak akan bekerja jika kau seperti ini", ujar Kyungsoo pelan. Tangannya kemudian menggenggam kuat kedua tangan Jaehee. "Kalau kau yakin bahwa Taehyung masih bertahan di luar sana maka kau harus tetap hidup. Ia tertangkap bukan berarti kita tak bisa mengembalikannya. Jika Myungeun saja bisa mengembalikan kakaknya, maka kau juga pasti bisa melakukannya", sambung Kyungsoo.

"Tapi...hiks...mereka tak ada yang percaya padaku...hiksss...mereka…hiks…mereka bahkan tak membiarkanku menolongnya..hh…hikss", gumam Jaehee.

Joonmyeon terdiam mematung pada posisinya. Perasaan sakit dan bersalah menghantuinya karena ia sempat ambil bagian ketika mereka menyerang Taehyung meskipun ia terpaksa melakukannya. Sekarang Jaehee mengkategorikannya sebagai salah satu dari teman-temannya yang tidak mempercayainya.

"Ssh...kau tidah boleh bicara seperti itu...mereka membantu agar kepulangan Taehyung bisa menjadi lebih mudah. Aku yakin mereka pasti akan memberimu kesempatan untuk bertemu dengan Taehyung sebelum ia kembali ke real world nanti", ujar Kyungsoo menyeka air mata Jaehee yang kini terlihat sedikit lebih tenang.

Joonmyeon menghela nafas menyaksikan Kyungsoo yang terus berusaha menenangkan Jaehee. Ia sadar mengapa kini yeoja itu lebih memilih Kyungsoo dibandingkan dirinya. Namja itu terlihat lebih sabar menghadapi sifat Jaehee yang keras kepala seolah ia sudah begitu familiar dengan sifat yeoja itu. Berbeda dengan dirinya yang belum tentu bisa sesabar itu menghadapi Jaehee. Ia kemudian berbalik dan pergi meninggalkan third eye dengan segala perasaan berat dan sesak dalam dadanya.

Kyungsoo melirik sejenak ke arah Joonmyeon yang berjalan menjauh membelakanginya. Ia menghela nafas berat. Hal ini juga menjadi dilemma baginya. Di satu sisi ia tak tega melakukan ini pada namja itu tapi di sisi lain, ia juga tak ingin meninggalkan Jaehee. Terlebih lagi setelah pertengkaran antara Jaehee dan Joonmyeon yang kembali terjadi beberapa hari yang lalu, justru takutnya akan memicu Jaehee menjadi histeris kembali.

"Lepaskan aku Kyungsoo-ya....hiks...aku harus menyelamatkan Taehyung hiks...LEPASKAN AKU!!!", gumam Jaehee yang mulai kembali memberontak meskipun tak sekuat sebelumnya.

"Jaehee-ah geuman...jebal", ujar Kyungsoo masih memegangi tangan Jaehee erat. "Kumohon jangan memaksaku melakukan sesuatu yang mungkin bisa menyakitimu nantinya", ujar Kyungsoo namun Jaehee tak mendengarkannya. Ia terus berusaha melepaskan diri dari Kyungsoo.

"Lepaskan aku-erggh!", erang Jaehee tertahan hingga akhirnya Kyungsoo terpaksa  mendorong tubuh Jaehee hingga punggung gadis itu menempel rapat pada rak buku di belakangnya. Ia memepet tubuh Jaehee agar ia tak bisa banyak bergerak.

"Lepaskan..hiks...aku...", gumam Jaehee penuh penekanan. Tubuhnya terjepit di antara rak buku serta tubuh Kyungsoo yang berada tepat di hadapannya. "Ughh!", Jaehee berusaha mendorong tubuh Kyungsoo dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya namun usahanya sia-sia karena Kyungsoo tak bergerak seinci pun dari hadapannya. Ia justru mendorong tubuh Jaehee sehingga jarak di antara mereka semakin rapat.

"Berhentilah memberontak atau aku akan terus menjepitmu seperti ini sampai kau menyerah", gumam Kyungsoo datar.

"Lepaskan aku hiks...hrrgh...lepaskan aku...hikss", isaknya sambil terus memukuli Kyungsoo.

Kyungsoo hanya terdiam pada posisinya menatap Jaehee yang masih mencoba memberontak meskipun kini secara perlahan, pukulan-pukulan yang diterimanya sudah berkurang hingga akhirnya yeoja itu benar-benar berhenti karena kelelahan. Ketika mulai dirasa bahwa Jaehee sudah terlihat sedikit lebih tenang, Kyungsoo pun menurunkan penjagaannya. Ia menyeka air mata di kedua pipi yeoja itu sekali lagi lalu menarik yeoja itu ke dalam pelukannya.  "Sudah cukup Jaehee-ah....berhentilah menyakiti dirimu sendiri. Aku dan yang lainnya masih membutuhkanmu di sini...", gumamnya sambil memeluk erat Jaehee. Kyungsoo terdiam selama beberapa saat tengah memikirkan sesuatu. "Aku....aku akan membawa Taehyung kembali padamu. Akan kupastikan kau bisa membawanya kembali ke real world dengan tanganmu sendiri. Tapi kau harus berjanji padaku bahwa kau tak akan memberontak dan berhenti menyakiti dirimu sendiri seperti sekarang ini...arasseo?", gumam Kyungsoo. Jaehee tak menjawab pertanyaan Kyungsoo. Ia terus menangis memanggil-manggil nama Taehyung. Kyungsoo menghela nafas mendengar rintihan Jaehee. "Himnae", gumamnya pelan.

 

***

Siyou berdiri disamping rak buku dimana Jaehee berada. Sakit, tangis dan seluruh penyesalan Jaehee akibat tertangkapnya Taehyung begitu dalam dirasakan juga olehnya.  BRUKK!! Ia mendengar suara pintu terbanting cukup keras. Dilihatnya Yoonjae berjalan terburu-buru memasuki Third Eye, tempatnya dimana ia berada.

Yoonjae memasuki satu persatu ruangan. "Dimana Jungkook dan Yaeji?" Pertanyaan itu yang terbaca oleh Siyou dari benak Yoonjae. Yoonjae benar, seharian ini Siyou juga sama sekali tidak melihat baik Jungkook ataupun Yaeji. Ia mulai khawatir. Ia pun mengikuti Yoonjae, walau tubuhnya terasa lemas karena tidak sesuap pun makanan juga seteguk pun air dapat mereka konsumsi. Siyou memejamkan matanya, mencoba mendengarkan suara hati Jungkook ataupun Yaeji, mungkin hal ini dapat membantu Yoonjae menemukan kedua anak itu.

"Hiks.. Hiks.."

"Disana!" Seru Siyou membuat Yoonjae menoleh padanya.

"Siyou-a, sejak kapan kau disini?" Tanya Yoonjae heran. Ia terlalu fokus mencari hingga tak sadar Siyou mengikuti dirinya sejak tadi.

Siyou menjawab hanya dengan tunjukan tangan. Ia tak bereaksi.. Arah yang ditunjuknya sebagai tempat keberadaan Yaeji dan Jungkook... Kosong. Tak seorangpun ada disana. Tapi suara tangis yang Siyou yakini sebagai suara Yaeji terdengar jelas.  Perlahan.....Air mata Siyou mengalir semakin deras.

Yoonjae menatap heran Siyou. Ia menyentuh pundak yeoja kecil itu. "Jungkookie eodiya?" Tanya Yoonjae halus. Tapi Siyou hanya menangis, ia menggelengkan kepala dan juga menurunkan tunjukan jarinya.  "Beritahu aku Siyou-ya!" Paksa Yoonjae yang perlahan mulai turut mersa frustasi akan yang tengah terjadi saat ini.

"Hiks.."

Yoonjae menahan emosinya. Ia tidak bisa bicara keras pada Siyou, sementara ia harus segera menemui Jungkook secepatnya untuk menyelamatkan Sehun. "Siyou-ya", ucap Yoonjae dengan suara pelan. "Jebal.. Jungkook melakukan kesalahan besar saat ini dan kita harus segera mengakhirinya sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada Sehun"

"Jangan mencari mereka...."

"Tapi Siyou.. Jungkook melindungi Taehyung di luar sana dan membuat Sehun tidak bisa menyerangnya!! Sehun dan Jungkook, keduanya dapat mati kapan pun jika Jungkook terus seperti ini!!" Pekik Yoonjae Emosi. Sekali lagi ia menekan perasaannya. Dihelanya nafas cukup dalam. "Hhh~ Siyou-ya jebal, bantu Oppa.. Beritahu Oppa dimana mereka berdua sekarang"

Tangis Siyou justru semakin menjadi, ia tertunduk dan terisak tanpa sebab yang diketahui jelas oleh Yoonjae. Siyou melirik satu arah lurus dari sudut matanya, tubuhnya gemetar hebat...

"Oppa.. Mengerti kalian berdua begitu menyayangi Taehyung. Tapi Siyou.. Taehyung saat ini bukanlah lagi Taehyung yang sama. Semakin lama Sehun mengalahkan Taehyung, maka.. Kondisi semua orang juga akan semakin buruk. Mereka yang hidup dalam kelaparan memiliki tingkat emosional yang lebih tinggi, bahkan dapat membunuh orang lain demi memenuhi rasa lapar itu.. dan musuh.. Pasti mengetahui tentang itu karena itu mereka.. Mengunci kedua Deipneus diluar sana, menangkap seorang dan membunuh seorang lagi.. .Jika semua itu terjadi.. Maka semua.. Akan berakhir"

"... Ss.. Hiks.. Mianhaeyo.. Aku tidak bisa membantu Oppa hiks.." Tanpa alasan yang jelas, Siyou mendadak pergi meninggalkan Yoonjae sendiri.  Ia tidak mengatakan apapun setelah itu.

***

Kyungsoo menutupi tubuh Jaehee yang tertidur dengan selimut. Setelah hampir satu jam terakhir memberontak, akhirnya ia tertidur juga karena kelelahan. Kyungsoo terduduk sejenak di dekat Jaehee yang tengah tertidur hanya sekedar untuk menarik nafas. Menenangkan Jaehee satu jam yang lalu menguras hampir sebagian energinya. Ia melamun sejenak memikirkan apa yang tengah terjadi. Ia juga mengingat pertemuannya dengan Jaeyoo beberapa hari yang lalu. Ia menoleh kea rah Jaehee dan memperhatikannya sejenak, “Aissh!”, gerutunya sejenak sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. Kekhawatiran menelusup dalam batinnya. “Ottokhaji? Apa aku harus melakukannya? Bagaimana jika keputusanku ini salah dan justru berakibat fatal bagi yang lainnya? Geundae….jika aku tak melakukannya….sigh….”, gumamnya dalam hati sambil menghela nafas berat. Ia kembali memperhatikan Jaehee lalu mencium kening gadis itu. “Semoga aku masih bisa melihatmu lagi”, gumamnya sebelum bangkit dari posisinya dan berjalan keluar dari Third eye.

***

March, 3rd 2014

03. 21 PM

"Yoboseyo?", DEG! Hyungshik menghentikan langkahnya lalu mematung di tempatnya. Melihat sikap Hyungshik yang mendadak aneh, Jinyoung dan Eunkyo pun turut menghentikan langkah mereka.

"Hyungshik-ah, wae irae?", tanya Jinyoung.

"J-Jaeyoo.....Jaeyoo dan komplotannya menyerang rumah sakitku....dan juga istriku", gumamnya dengan wajah pucat pasi.

"MWORAGO?!", seru Jinyoung dan Eunkyo bersamaan.

"Aku harus kembali ke rumah sakit secepatnya", ujar Hyungshik panik.

"Ch-chakkaman...lalu bagaimana dengan Eunkyo?", tanya Jinyoung tak kalah panik.

“Nan gwenchana..”, ujar Eunkyo.

"Kau tetaplah di sini bersama Eunkyo...aku akan kembali ke rumah sakit dengan taksi...akan kukabari secepatnya tentang apa yang terjadi", seru Hyungshik yang segera bergegas pergi dari hadapan Jinyoung dan Eunkyo yang masih tercengang dengan apa yang baru saja terjadi.

"Kau tidak kembali? Aku bisa menemuinya sendiri", gumam Eunkyo memecah keheningan di antara keduanya.

"Gwenchana...aku akan kembali setelah kita menyelesaikan urusan kita di sini", ujar Jinyoung mencoba menenangkan Eunkyo. Jinyoung kemudian membimbing Eunkyo menemui dokter yang telah mereka hubungi untuk bertemu sebelumnya. Dokter itu kemudian membawa Eunkyo dan Jinyoung menuju sebuah ruangan di rumah sakit tersebut.

"Kamar isolasi?", tanya Eunkyo.

"Ne...kami terpaksa harus menjauhkannya dari pasien lainnya. Wanita ini mengidap schizophrenia di mana ia sering sekali berteriak histeris dan mengamuk secara tiba-tiba...kami khawatir ia akan mencelakai pasien lainnya", ujar sang dokter.

"A-Apa aku boleh menemuinya?", gumam Eunkyo tiba-tiba. Jinyoung terkejut mendengar permintaan Eunkyo.

"Yah! Neo micheosso?! Bagaimana kalau-"

"Gwenchana....aku mengenal anak itu...dan apa yang diceritakan dokter ini sama seperti apa yang diceritakan anak itu padaku", gumam Jinyoung pelan.

"Baiklah...tapi kumohon jangan terlalu lama", ujar sang dokter mempersilakan Eunkyo untuk masuk sementara Jinyoung menunggu di luar. Eunkyo memasuki ruangan secara perlahan. Ruangan tersebut di dekorasi serba putih. Tak ada satupun benda berwarna hitam di sana. Di sudut ruangan, ia melihat sesosok wanita seusianya tengah bersandar sambil menatap keluar jendela. Rambutnya berantakan, wajahnya terlihat pucat dan tatapannya kosong. Eunkyo berjalan perlahan mendekati wanita itu lalu duduk bersimpuh di dekatnya. Wanita itu menoleh dan menatap Eunkyo dengan tatapan kosong. "A-Annyeong...", sapa Eunkyo pelan namun tak ada reaksi dari wanita itu. "A-apa kau mengenalku? Dulu...aku tinggal tepat di seberang rumahmu...namaku...Kim Eunkyo", gumam Eunkyo pelan.

"K-Kim Eunkyo?", gumam wanita itu pelan sambil memperhatikan Eunkyo dengan seksama.

"Neo ireumeun....Ha Jaesoo matchi?", tanya Eunkyo kali ini dan wanita itu mengangguk pelan. "Aku datang kemari karena....eum...karena...", Eunkyo terlihat ragu ketika ia akan mengungkapkan maksud kedatangannya menemui wanita bernama Jaesoo tersebut. "Karena...anakmu...", gumam Eunkyo melanjutkan kalimatnya. Kedua mata Jaesoo melebar. Ia tiba-tiba menggenggam erat jaket yang dikenakan Eunkyo.

"K-Kau mengenalnya? Ia baik-baik saja? A-apa ia menyampaikan sesuatu padamu?", tanya Jaesoo terbata-bata. Eunkyo terdiam menatap Jaesoo. Matanya berkaca-kaca ketika melihat reaksi Jaesoo yang dengan ekspresi penuh harap menatapnya ketika ia menyebut sesuatu tentang anaknya. Sebagai seorang ibu, ia bisa merasakan kepedihan yang dialami sepasang ibu dan anak tersebut. "E-Eunkyo-ssi...a-apa ia m-menyampaikan sesuatu padamu?", gumam Jaesoo mengulangi pertanyaannya.

"Ne....ia merindukanmu", gumam Eunkyo. Anak itu tak pernah bicara banyak tentang ibunya ketika ia menemuinya beberapa bulan yang lalu. Namun, meskipun begitu ia yakin bahwa pastilah terselip rasa rindu dalam hatinya meskipun ia tak pernah mengungkapkannya secara langsung. Mata Jaesoo berkaca-kaca menatap Eunkyo.

"T-Tolong....s-sampaikan padanya bahwa...h-hikss...bahwa aku tak pernah b-berniat untuk membunuh ayahnya....hikss....t-tolong sampaikan permintaan maafku p-padanya...karena aku...hhhss...karena aku...hidup anak itu jadi menderita...", gumamnya terbata-bata sambil menangis tersedu-sedu. Eunkyo menutup mulutnya mencoba untuk menahan dirinya agar ia tak menangis di hadapan Jaesoo. Ia tak tahu bagaimana ia harus memberitahu Jaesoo bahwa Jaeyoo telah menangkap anaknya tersebut. Tiba-tiba Eunkyo merasakan genggaman Jaesoo yang semakin erat pada jaketnya. "Semua karena pria itu....", gumamnya geram.  Kebencian dan dendam tergambar di wajahnya yang semula terlihat rapuh. Eunkyo memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya dan menyalakan aplikasi "recording" di ponselnya untuk merekam ucapan Jaesoo.  "Ia selalu mengikutiku dan menerorku...ia....selalu mengatakan padaku...bahwa ia akan merebut sesuatu yang berharga yang sudah lama kumiliki....", ujar Jaesoo geram. "Karena dia...keluargaku hancur...karena pria itu juga...aku....aku terpaksa membunuh suamiku sendiri", sambungnya. Jaesoo kemudian memperhatikan kedua tangannya sendiri dan kembali menangis histeris. "Ia mempengaruhiku agar aku membunuh suamiku..Ia bahkan mengancamku bahwa ia akan membawa anakku….hiksss....", serunya histeris. Mendengar jeritan Jaesoo, Jinyoung dan dokter bergegas memasuki ruangan. Namun Eunkyo memberikan sinyal pada Jinyoung bahwa ia baik-baik saja.

"Kekuatan? Kekuatan apa Jaesoo-ssi?", tanya Eunkyo lembut.

"Nan...molla....", gumam Jaesoo sambil menggelengkan kepalanya.

"S-Siapa pria yang kau bicarakan ini Jaesoo-ssi?", tanya Eunkyo lagi.

“Ha Jaeyoo”, gumam yeoja bernama Jaesoo tersebut.  

***

"Klik", Eunkyo mematikan rekaman di ponselnya setelah memperdengarkan rekaman tersebut pada Jinyoung.  Saat ini mereka masih berdiri tepat di depan kamar isolasi Jaesoo. "Jaesoo tidak sepenuhnya gila...ia mengatakan yang sebenarnya namun tak ada yang mempercayainya termasuk anaknya sendiri", ujar Eunkyo setelahnya.

"Jaeyoo benar-benar sudah gila!", seru Jinyoung kesal. "Lalu apa kau memberitahunya bahwa Jaeyoo juga menangkap anaknya?", tanya Jinyoung. Eunkyo menggelengkan kepalanya pelan.

"Aku tak tega memberitahunya", gumamnya sedih. "Geundae...aku penasaran dengan kekuatan apa yang dimaksud Jaesoo?", tanya Eunkyo lagi.

"Berdasarkan info yang kudapat dari Kyungjae...Jaeyoo bukanlah lagi seorang manusia. Ia adalah sesosok arwah yang sedang berusaha agar ia bisa hidup kembali. Berdasarkan info dari Kyungjae yang juga didapatkannya dari Minhyuk, saat ini ia tengah memburu beberapa element yang mengandung kekuatan agar ia bisa membangkitkan dirinya kembali", ujar Jinyoung.

"Element yang kau maksud itu….anak-anak kita?’, tanya Eunkyo.

"Maja....dan bisa saja, anak itu...mewarisi apa yang dimiliki Jaesoo maka dari itu Jaeyoo menangkapnya", ujar Jinyoung.

"Aku masih belum terlalu paham Jinyoung-ah...mengapa .element-element itu memilih anak-anak kita? Apa mereka berasal dari pemiliknya terdahulu? Maksudku...dari mereka yang pernah terlibat kasus yang serupa seperti apa yang kita alami dulu? Kalau begitu, anak-anaku mendapatkannya dariku?", tanya Eunkyo.

"Sepertinya begitu...", gumam Jinyoung.

"Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah mati? Maksudku...apa element itu akan mencari pemilik baru lagi setelah pemilik lamanya mati?", tanya Eunkyo.

"Sejauh yang kutahu...ketika orang itu mati maka...element/kekuatan yang dimilikinya bisa berpindah pada orang yang memiliki hubungan dekat dengan mereka...seperti orang tua dengan anaknya", ujar Jinyoung. "Tapi ini hanya teoriku saja...aku juga tak terlalu yakin...kita bisa bertanya langsung pada Kyungjae nanti. Ppali ka...kita harus segera menyusul Hyungshik", ujar Jinyoung sambil membimbing Eunkyo pergi dari tempat tersebut.

DEG!, wanita itu terdiam setelah mendengar pembicaraan Jinyoung dan Eunkyo dari balik pintu. Ia memeluk tubuhnya yang gemetar. Wanita itu merangkak mendekati sebuah lemari berwarna putih berukuran kecil yang terletak di samping tempat tidurnya. Ia membuka lacinya dan mengambil sebuah cutter.      Tangannya gemetar memegangi cutter tersebut. Matanya berkaca-kaca memandangi cutter tersebut. Perkataan Jinyoung tadi terus terngiang di telinganya.

"Sejauh yang kutahu...ketika orang itu mati maka...element/kekuatan yang dimilikinya bisa berpindah pada orang yang memiliki hubungan dekat dengan mereka...seperti orang tua dengan anaknya"

"S-Semoga...k-kau...bisa...kau bisa...menggunakan...kekuatan ini...dengan baik....”, gumamnya gemetar. Ia meletakkan cutter tersebut pada pergelangan tangan kirinya dan....SLAAASH!, tubuh wanita itu terkulai lemah. Darah mengalir dari pergelangan tangan kirinya karena ia baru saja menyayat urat nadinya sendiri. "B-Balaskan....dendamku...", gumamnya lemah sebelum akhirnya ia menutup rapat kedua matanya.

***

Kabut tebal mulai menutupi area depan gedung perpustakaan. “Yichan-ah, sepertinya harus kita sudahi dulu untuk hari ini”, ujar Myungeun.              

“Matta…hari sudah mulai gelap..”, sambung Baekhyun sambil mengajak Myungeun berjalan menjauhi jendela dan duduk di kursi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Yichan menghela nafas pelan. Ia masih belum bisa tenang sepenuhnya sebelum ia memastikan bagaimana keadaan Sehun. Ia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Sehun. “Yoboseyo? Sehun-ah mian…aku harus berhenti sejenak karena keadaan di luar sudah tak terlihat lagi. Apa aku harus ke bawah untuk-“

“Andwae!. Tetap di dalam gedung dan jangan keluar….di sini terlalu berbahaya. Aku bisa melihat pergerakan Taehyung. Aku tahu apa yang harus kulakukan…kau tak perlu khawatir”       

“Ne….Josimhae”, balas Yichan singkat. Ia menghela nafas sejenak lalu bergabung bersama Myungeun dan Baekhyun untuk beristirahat.          

“Ottae?”, Tanya Baekhyun.            

“Molla…kita lihat saja besok”, jawab Yichan sembari menyandarkan kepalanya pada kursi dan memejamkan matanya.  Myungeun dan Baekhyun menghela nafas mendengar jawaban Yichan. Baekhyun mengangkat kedua bahunya seolah memberi isyarat pada Myungeun agar ia membiarkan Yichan. Baekhyun menyandarkan kepalanya pada kursi. Ia menoleh lalu melihat Joonmyeon berjalan keluar dari dalam Third eye dalam keadaan lesu. “Ya Joonmyeon-ah…neo gwenchana? Bagaimana keadaan Jaehee?”, Tanya Baekhyun.            

“Buruk..”, jawab Joonmyeon singkat. “Apa kalian sudah berhenti menyiksa Taehyung?”, Tanya Joonmyeon datar. Baekhyun, Myungeun, dan Yichan sontak menoleh kea rahnya.             

“Apa maksud pertanyaanmu?”, Tanya Yichan datar. Ia menatap Joonmyeon tajam. “Diamlah kalau tak tahu apapun…kau bahkan tak banyak membantu“, ujar Yichan datar.           

“Aku tak peduli siapapun yang kembali, aku tak ingin melukai salah satu dari mereka”, balas Joonmyeon tak kalah datar.             

“Wae? Karena Taehyung adik dari yeoja yang kau cintai?”, Tanya Yichan datar namun penekanan.           

“Kalau iya lalu kau mau berbuat apa? Aku tak tahu mengapa kau sangat bersemangat sekali membantu Sehun menyerang Taehyung meskipun kau tahu anak itu adalah bagian dari kita”, balas Joonmyeon.

“Ia bukan lagi bagian dari kita”, potong Yichan. “Kini ia adalah bagian dari pihak musuh. Lagipula  Aku melakukan ini juga demi kebaikan Taehyung”, jawab Yichan.           

“Atau demi kebaikanmu yang takut kehilangan Sehun?”, potong Joonmyeon. Yichan terdiam menatap Suho tajam. "Kenapa kau terdiam Yichan-ah? Kau takut kehilangan Sehun bukan? Maka dari itu kau melakukan segala cara untuk memulangkan Taehyung kembali ke real world?? APA KAU LUPA BAHWA TAEHYUNG LAH YANG MENYELAMATKAN SEHUN?!", Bentak Joonmyeon yang sudah lagi tak mampu membendung rasa frustasinya. DUAAAKKK!!! sebuah buku besar melayang dengan cepat menghantam kepalanya hingga ia jatuh tersungkur.

"YICHAN-AH!", pekik Myungeun.

Yichan tak menghiraukan ucapan Myungeun. Ia berjalan mendekati Joonmyeon yang tersungkur di hadapannya. "Kau tak mengerti bagaimana peran Sehun dan Ibunya dalam hidupku selama ini", gumam Yichan datar menatap tajam Joonmyeon yang tersungkur di hadapannya. "Aku...tak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi pada mereka", sambung Yichan pelan namun penuh penekanan.

"Dan kau mengorbankan orang lain demi memenuhi egomu itu", balas Joonmyeon. Sebuah buku lagi-lagi melayang ke arahnya namun ia gagal mengenai Joonmyeon, karena ia menahannya dengan menyerap kemampuan telekinesis Yichan. Buku itu melayang-layang di antara mereka berdua. "Kau juga tak mengerti bahwa mungkin saja dibalik sifat menyebalkan dan bodoh Taehyung, ia pernah melakukan sesuatu yang berarti bagi orang lain", gumam Joonmyeon berusaha bangkit dari posisinya. "Di tempat ini...bukan hanya kau satu-satunya yang menderita dan menyimpan luka dari masa lalu yang kelam. Kau membutuhkan Sehun sama halnya dengan Jaehee membutuhkan Taehyung. Mereka saudara sedarah, rasa sakit yang kau alami jika kau kehilangan Sehun tidaklah sama dengan rasa sakit yang dialami Jaehee karena kehilangan saudara kandungnya. Terlebih lagi, ia harus kehilangan adiknya di tangan temannya sendiri”, ujar Joonmyeon.

“Jangan menceramahiku Kim Joonmyeon”, balas Yichan datar.

“Siapapun yang akan kembali ke sini atau ke real world nantinya, aku tak mau ikut campur dengan harus menyerang salah satu di antara mereka. Apa kau...tak bisa membiarkan mereka berdua saja yang menyelesaikan semuanya?", tanya Joonmyeon pelan.

Yichan terdiam menatap Joonmyeon tajam. Buku itu jatuh tepat di antara mereka. "Gurae...lakukan apa yang kau suka dan aku akan tetap melakukan apapun demi mengembalikan Sehun ke tempat ini", gumam Yichan datar lalu berbalik menuju jendela.

Baekhyun refleks bangkit dari kursinya dan mencoba menjauhkan Joonmyeon dari Yichan. “Ya, sudahlah….kau tahu sendiri keadaan sekarang sedang memanas”, bisik Baekhyun. 

Joonmyeon menepis tangan Baekhyun dan mencoba berdiri. Ia berniat membalas Yichan namun perhatiannya oleh sosok Kyungsoo yang sempat terhenti di dekat mereka dengan kondisi yang aneh. "Ya Do Kyungsoo"

"Mwo?" Tanya Kyungsoo datar.

"Kau mau kemana?" Tanya Suho sembari menatap tajam Kyungsoo. Kyungsoo tak menjawab pertanyaan Joonmyeon. Ia berlalu begitu saja dan sosoknya menghilang di balik salah satu rak buku.

***

Siyou meringkuk memeluk dirinya sendiri di salah satu ruangan Third eye dimana ia, Jungkook, Taehyung juga terkadang bersama Yichan dan Sehun bermain. Terdapat beberapa coretan pada rak-rak buku di sana. Setiap coretan berisi candaan itu membuat Siyou semakin tenggelam pada kesedihannya.

Cookie pabo

Weird Taehyung Hyung

Baek Si Cry

Tulisan-Tulisan semacam itu yang mengotori rak-rak tersebut. Sebagian besar kekacauan itu dimulai oleh Taehyung dan berakhir dengan balasan dari Jungkook. Setiap kali Taehyung mengejek dengan menulis sesuatu, maka Jungkook akan balik mengejek dengan mencoret lebih banyak.  Siyou sendiri sering kali dipaksa untuk menulis juga. Tapi setiap tulisan Siyou justru biasanya membuat Taehyung dan Jungkook berhenti mengejek dengan tulisan-tulisan yang mengotori rak buku itu. Ketiganya juga akhirnya hanya tertawa terbahak-bahak seperti anak-anak kurang waras. Setiap memory yang terekam dalam pikiran Siyou membuat tangisnya makin terisak."Hik.. Hiksss.. Eung..h.. Eung.. Hikss.. Hikss.."

PRUK... Sebuah buku terjatuh dengan sendirinya. Buku-buku pada Third Eye memang sering kali beterbangan dengan sendirinya sesuai apa yang dipikirkan oleh orang-orang di dalamnya. Buku itu tepat terbuka pada sebuah halaman. Beberapa tulisan pada halaman buku itu dicoret dengan sengaja menggunakan bolpoin dan seseorang juga sepertinya sengaja menempelkan note berisi tulisan lain pada buku itu.

 

I prefer being a coward than being brave because people hurt you when you are brave

« Babo Baek Si Cry`s way of thinking... IT IS A BIG NO NO!!

READ IT!!!!!!!!

F--FALSE

E--EVIDENCE

A--APPEARS

R--REAL

In Life, There is Nothing to be feared of. It only needs to be understood.

The one who loses wealth loses much, the one who loses a friend loses more, but the one that loses courage loses all.

 

- BY  JEON JUNGKOOK & MOON TAEHYUNG-

Siyou sudah tak tahu lagi bagaimana cara melampiaskan kesedihannya. Sesak, sakit, kecewa, merasa begitu tak berguna semua dirasakan olehnya saat itu. Tanpa seorangpun dari kakak-kakak mereka disana ketahui, ketiga magnae line telah mengetahui kekuatan mereka masing-masing. Tidak.. Mereka tidaklah sebodoh apa yang anak lainnya pikirkan. Selama berada didalam Third eye sana, ketiganya selalu mencari informasi tentang apa yang mereka miliki. Taehyung, Jungkook juga Siyou mencuri semua buku yang berhubungan dengan kekuatan mereka dari seluruh bagian dalam Third eye secara berkala dan menyembunyikan dalam ruangan tersebut. Terutama buku-buku yang berhubungan dengan kekuatan Siyou.

Tujuan mereka hanya satu,  khusus untuk Siyou, baik Jungkook dan Taehyung sadar betul kekuatan Siyou dan kepribadian Siyou adalah dua sisi yang amat sangat berbeda. Akan sulit bagi Siyou untuk mendapatkan kekuatan tersebut. Mereka melindungi Siyou dari tekanan yang mungkin Siyou terima dari anak lainnya agar ia segera mendapatkan kekuatan itu. Mereka yakin suatu hari nanti Siyou akan mendapatkan kekuatan itu tanpa harus mendapat paksaan dari siapapun.

PLUKK... Buku tadi kembali terbang ke suatu arah dan menjatuhkan salah satu benda dari atas meja. Siyou menghapus air matanya. Ia segera berlari menju benda yang terjatuh dari atas meja. DEG!! Ia tersentak begitu menyentuh benda itu. Diendusnya aroma yang dari benda tersebut yang membuatnya semakin tersentak. "Igoneun.. Solma..", BRUKKKKKKK.. Siyou berlari terburu-buru berniat keluar dari ruangan tersebut sampai ia menabrak kursi di depannya. Sebelum sempat ia membuka pintu, pintu ruangan itu terbuka dengan sendirinya. Sosok seorang namja muncul di depan pintu..

Siyou tak dapat menahan air matanya.. Tubuh namja itu dipenuhi dengan memar, tubuhnya begitu kurus sampai pada beberapa bagian tergambar jelas alur tulang. Darah juga mengalir dari hidung dan dahi namja itu. Ia kehilangan kemampuan melihat dan mendengar. Bibir namja itu bergerak seperti mencoba mengucapkan sesuatu.. Tapi darah juga mengalir dari sisi bibirnya yang juga begitu kering..

Langkah Siyou tertatih menuju dirinya. Sesak itu tak lagi bisa ditahannya. Kondisi namja di hadapannya lebih buruk dari mayat hidup sekalipun. "J.. Jung.. Kookie.. H.. Hikss...hiks.. J.. Jungkook-a.. Hksss.." Siyou memeluk erat tubuh namja yang tak lain adalah Jungkook itu. "Kookie wae iraee.. Hiksss AARRGHH COOKIE!! HIKSSS"

Di belakang Jungkook berdiri Yaeji. Tubuh gadis itu juga kerap muncul dan menghilang. Kedua anak itu dalam keadaan kritis, keduanya digerogoti oleh kekuatan mereka masing-masing. "Eonnie~ hiks.. " Panggil Siyou.

DEG!!!! Siyou membulatkan matanya sempurna. Sebuah suara bergema cukup jelas walau tak seorangpun bicara.

"Kkaja.. Siyou-ya"

***

Kyungsoo berjalan diam-diam keluar dari perpustakaan. Sesekali ia menoleh ke belakang memperhatikan gedung perpustakaan yang sudah cukup lama disinggahinya tersebut. Ia menghela nafas lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Jantungnya berdegup kencang ketika ia tiba di depan pintu keluar Gedung Yonghan University. Ia menyentuh Shelter pelindung Yonghan yang tak bisa ia tembus. Di satu sisi ia memikirkan bahwa cepat atau lambat ia akan menjadi seperti Ha Jaeyoo. Namun di sisi lain ia tak siap jika ia harus melawan dan menyerang teman-temannya, khususnya Jaehee yang sudah bersamanya selama berbulan-bulan lamanya. Dilemma juga melandanya ketika ia teringat Taehyung dan betapa menderitanya Jaehee karena kehilangan adik satu-satunya tersebut. Semenyebalkan apapun sikap Taehyung, anak itulah yang pertama kali menemukannya ketika ia terjebak dalam rasa frustasi akibat masalah yang dihadapinya. Tanpa diketahui anak-anak lainnya, yang selalu menghakimi Taehyung, ia merasa bahwa Taehyung sudah berbuat banyak untuknya. Jika ia tak bertemu Taehyung beberapa belas tahun yang lalu, mungkin ia tidaklah menjadi dirinya seperti yang sekarang. Maka dari itu, ia tak mampu menyalahkan anak itu ketika Jimin menghilang dulu.

Kyungsoo memejamkan matanya, Cahaya hitam keluar dari dalam tangan Kyungsoo, lubang kecil terbuka pada Shelter milik Jungkook.. Lubang yang semakin lama menjadi semakin besar. “Mianhae.. Chingudeul..” ujar Kyungsoo.

***

"Kau adalah anak yang baik Dyo-ya. Seburuk apapun kondisi keluargamu, kau harus tetap menjadi seperti Dyo yang ku kenal...karena kau adalah anak yang baik...aku percaya itu"

-Kim Eunkyo-

"Di antara semua namja di sini hanya aku dan Kyungsoo hyunglah namja yang paling keren!"

-Moon Taehyung-

"Kau tidak lebih berbahaya dari namja di hadapanmu ini Kyungsoo-ya. Kau berbeda dengan Jaeyoo. Kau memiliki sesuatu yang tidak di dimiliki Ha Jaeyoo"

-Goo Yoonjae-

Kyungsoo membuka matanya perlahan. Ia merogoh leher bajunya dan mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin yang sama persis seperti yang biasa dikenakan Taehyung dan Jaehee.

 

Taehyung memberikan liontin itu padanya beberapa tahun yang lalu sebelum ia dan keluarganya bertolak ke Busan dan menetap di sana.

Kyungsoo memakai liontin tersebut di lehernya. Taehyung pernah memberitahunya mengapa ia dan Jaehee tak pernah melepaskan kalung tersebut, karena mereka percaya bahwa kalung itu bisa melindungi mereka dari kejadian buruk. Selama ini ia hanya menyimpannya dan tak pernah memakainya karena ia tak suka mengenakan kalung yang dulu dianggapnya sebagai aksesoris wanita. Namun, ia sempat berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan memakainya suatu hari nanti jika ia benar-benar menemukan Jaehee. Kalung ini adalah benda yang pertama kali ditemukannya ketika ia terdampar di tempat ini. Ketika menyadari bahwa ia terdampar ke tempat ini, ia segera kembali ke kamar asramanya yang sudah tak berpenghuni untuk mencari benda tersebut dan beruntunglah ia bahwa kalung ini masih tersimpan rapi di dalam laci meja belajarnya saat itu.

"Aku akan mengembalikanmu ke real world apapun yang terjadi Moon Taehyung. Jika di akhir nanti aku memang harus melawan yang lainnya terutama Jaehee, maka akan kubiarkan ia membunuhku dengan tangannya sendiri. Kurasa aku memang pantas mendapatkan hal itu" gumamnya dalam hati. Kyungsoo pun dengan mantap melangkah memasuki gerbang Yonghan high-school. Kabut hitam di belakangnya pun bergerak menutupi gerbang sekolah itu tak lama setelah Kyungsoo masuk ke dalamnya seolah mengurungnya selamanya dalam tempat itu.

☆*:.。. o)o .。.:*☆


Tags:
Komentar
RECENT FAN FICTION
“KANG MAS” YEOJA
Posted Rabu,16 Juni 2021 at 09:31
Posted Senin,20 April 2020 at 22:58
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 23:42
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:08
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:07
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:07
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:06
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:06
FAVOURITE TAG
ARCHIVES