Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
google plus dreamers
How It Works?
Dreamland
>
Fan Fiction
DIFFERENT DIMENSION
Posted by KaptenJe | Kamis,01 Juni 2017 at 16:33
8
10377934
Status
:
Complete
Cast
:
BTS Jin, V, Jungook, Jimin EXO Suho, D.O.,Baekhyun, Sehun, Chanyeol, Chen AOA Hyejeong, Miss A Suzy,
DIFFERENT DIMENSION

CHAPTER 59 : Epilogue [PART 2]

01.35 PM

Jaehee refleks menoleh ketika ia mendengar suara seseorang di belakangnya. Kedua matanya membesar ketika melihat siapa yang kini berdiri di belakangnya. “D-Do Kyungsoo?”. Belum tuntas keterkejutannya, ia lagi-lagi dibuat terkejut ketika matanya menangkap kalung berbandul hati berwarna hitam dan putih yang sama dengan miliknya, tergantung di leher namja itu. “D-Dyo?”, gumam Jaehee tak percaya.

“Kau mengikutiku?”, Tanya Kyungsoo menatap tajam Jaehee.

“A-Ani…N-Na kalkke-Aaaaak!”, seru Jaehee tiba-tiba ia hampir saja terjungkal ke belakang, karena keterkejutannya dan hal itu membuat kakinya mendadak lemas. Keberuntungan masih menaunginya, ketika Kyungsoo refleks menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya. DEG! Jantung Jaehee mendadak berdegup kencang ketika Kyungsoo menariknya hingga akhirnya secara tak sengaja posisi mereka seolah seperti sedang berpelukan. Jaehee perlahan menarik dirinya dan menatap namja di hadapannya tersebut. “J-Jweisonghamnida”, ujarnya cepat sembari menarik mundur dirinya sendiri. “A-Aku…kebetulan..a-aku sedang mengunjungi makam halmeoni hahahahaha!”, ujarnya beralasan.

“Jincha? Bukankah makam nenekmu berada di Busan?”, Tanya Kyungsoo tenang.

“N-Ne?!”, seru Jaehee terkejut.“Ah matta…neo jincha paboya”, rutuk Jaehee pada dirinya sendiri. “N-Ne…maja”, gumam Jaehee tertunduk. Ia tak berani menatap namja itu sama sekali.

“Kau mengikutiku matchi?”, Tanya Kyungsoo mengulangi pertanyaannya.

Jaehee mengangguk lesu. “Mian…aku hanya ingin memastikan apakah kau adalah-“

“Dyo?”, potong Kyungsoo. “Nan Dyo aniya”, jawab Kyungsoo tenang.

Jaehee mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk. “T-Tapi…kalung itu…”

“Dyoneun jugeosseo…Dyo sudah mati bersama kedua orangtuaku”, ujar Kyungsoo menunjuk makam kedua orangtuanya yang berada di belakang Jaehee. “Aku tak ingin dipanggil dengan nama itu lagi….Jigeumeun…nae ireumeun…Do Kyungsoo imnida”, jelas Kyungsoo.

Jaehee terperangah mendengar ucapan Kyungsoo. Semua ini masih terasa sulit dicerna baginya. Berbagai macam pertanyaan berkelebat di kepalanya tentang apa yang terjadi selama beberapa tahun lamanya mereka tidak bertemu.

Kyungsoo menghela nafas sejenak. “Kaja”, ujarnya tersenyum tipis.

“Eo-Eodi?”, Tanya Jaehee.

“Jika kau ingin bertanya banyak hal, carilah tempat lain yang nyaman untuk bicara...bukan di pemakaman seperti ini…nanti kau mengganggu kedua orangtuaku”, canda Kyungsoo.

***

01.35 PM

“Nan gwenchana Joowon-ah..jincharo”, ujar Joohye berbicara dengan adiknya, Joowon melalui telepon karena Joowon tengah sibuk mengurus jadwal kuliah dirinya dan juga Joohye, yang baru saja memasuki Yonghan semester ini. “Hm…arasseo”, ujar Joohye mengakhiri pembicaraannya dengan Joowon. Ia menghela nafas sejenak. Hanya dalam hitungan menit, ia seolah mengalami déjà vu berkali-kali. Orang-orang yang membelanya tadi…semuanya terasa familiar baginya, termasuk ketika dirinya melihat sosok Yaeji tadi. Joowon sempat menceritakan padanya bahwa dulu hubungan keduanya tidaklah terlalu baik dan itu disebabkan karena dirinya. “Aku pasti orang yang sangat jahat sekali dulu…”, gumamnya muram. “Ah molla…”, gumamnya tertunduk sambil menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. Kepalanya terasa  sakit ketika dirinya memaksakan mengingat bagaimana dan seperti apa dirinya dulu sebelum semua ingatannya hilang.

CEKLEK! Terdengar suara pintu ruangan terbuka. “Oh..Joohye-ssi?”

Joohye refleks mengangkat wajahnya dan segera berdiri. Sejak tadi ia menunggu di depan ruangan Minhyuk, dimana Joonmyeon membawa yeoja yang sempat membullynya tadi. “J-Joonmyeon-ssi”

“Mwohaeyo?”, Tanya Joonmyeon.

“A-Aniyo..aku hanya…geu yeojaga…ottokaheyo?”, Tanya Joohye hati-hati.

“Kkokjongma…Minhyuk ssaem sedang mengurusnya di dalam…ia akan mendapat hukuman membersihkan toilet wanita sebelum perkuliahan dimulai besok bersama beberapa yeoja lainnya yang juga terlibat”, ujar Joonmyeon santai.

“Geundae…aku tak ingin masalah ini semakin panjang”, ujar Joohye khawatir.

“Gwenchana….mereka pantas mendapatkannya…ternyata bukan hanya kau saja korban mereka…mereka juga pernah memprovokasi Jaehee dulu ketika kami bertengkar”, ujar Joonmyeon.

“J-Jaehee?”, Tanya Joohye. Ia kemudian teringat bahwa Jaehee adalah nama yeoja yang menahan tubuhnya tadi ketika ia hampir terjatuh. “Ia…yeojachingumu?”, Tanya Joohye hati-hati. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa sesak ketika menanyakan hal tersebut.

“Eung…ia yeojachinguku…”, ujar Joonmyeon. “Tiga bulan yang lalu haha”, sambungnya setelahnya. Joohye mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan Joonmyeon. “Hubungan kami sudah berakhir tiga bulan yang lalu…sekarang kami hanya berteman saja”, ujar Joonmyeon menjelaskan.

“Ah…gurae?”, respon Joohye tersenyum tipis. “Eung..Joonmyeon-ssi”

“Ne? Ah! Apa kau bisa tak usah berbicara dengan bahasa formal padaku? Kurasa kita seumur…santai saja…berbicara terlalu formal membuatku sedikit tak nyaman”, ujar Joonmyeon tersenyum.

“Ah…gurae…mianhaeyo m-maksudku…mian…Joonmyeon-ah” ujar Joohye.

“Johtda”, jawab Joonmyeon sambil mengacungkan jempolnya. “Ah…tadi kau mau bicara apa?”

“Eung…ani..aku hanya ingin berterimakasih saja atas pertolonganmu dan juga yang lainnya tadi”, ujar Joohye.

“Ah…gwenchana…mulai sekarang…jangan suka menyendiri seperti tadi. Bergaulah dengan beberapa mahasiswa lainnya…nanti kau akan kukenalkan pada Jaehee, Miyoungie noona, dan juga Eunhee…Jaehee memang sedikit aneh, tapi ia yeoja yang baik. Kau juga bisa bertanya padaku jika ada sesuatu yang tak kau mengerti…tak perlu malu”, ujar Joonmyeon santai.

Joohye tersenyum tipis. “Apa kau…masih menyayangi yeoja bernama Jaehee itu?”, Tanya Joohye hati-hati.

Joonmyeon menghela nafas sejenak. “Moreugesseo….mungkin saja…tapi kurasa aku sudah cukup membuatnya tertekan. Hubungan kami dulu tidaklah terlalu baik.. Kami sering sekali bertengkar…hingga akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri semuanya dan memilih unutk berteman saja…kurasa aku juga bersalah karena aku menggunakan hubungan kami sebagai bentuk pelarian”, ujar Joonmyeon.

“Wae?”, Tanya Joohye.

“Aku menggunakan hubunganku dengan Jaehee agar aku bisa melupakan yeoja yang kucintai…aku memang menyayangi Jaehee, tapi di sisi lain..ada yeoja lainnya yang kucintai jauh sebelum aku mengenal Jaehee…dan aku belum bisa melupakannya”, ujar Joonmyeon tersenyum getir.

“Kenapa kau tak mengajaknya kembali padamu?”, Tanya Joohye lebih jauh.

“Seandainya bisa, pasti sudah kulakukan sejak dulu…dan Jaehee tak akan pernah menjadi kekasihku”, ujar Joonmyeon tersenyum getir.

“Apa ia sudah menikah dengan orang lain?”, Tanya Joohye penasaran.

Joonmyeon menggeleng pelan. “Ia sudah tak ada lagi…”, jawabnya tersenyum pahit.

Joohye menutup mulutnya tak percaya. “J-Jweisonghamnida”, ujarnya refleks membungkuk meminta maaf.

“Gwenchana….lagipula semua sudah berlalu…bagaimanapun aku berharap aku bisa melihatnya…ia tak akan pernah kembali…tapi aku percaya, ia pasti melihatku dari atas sana…”, ujar Joonmyeon sambil menunjuk ke a rah langit.

Joohye terdiam memperhatikan Joonmyeon. “Boleh aku bertanya satu hal lagi?”

“Tentu silahkan saja…”,ujar Joonmyeon.

“Mengapa tadi kau menolongku? Kau bahkan tak mengenalku”, ujar Joohye.

“Hm…Yeoja yang kucintai memberiku nama lain ketika ia masih hidup…ia biasa memanggilku Suho (Suho = Guardian Angel) dan dengan julukan yang ia titipkan padaku, aku ingin melindungi mereka yang memang pantas untuk dilindungi dan juga melindungi orang-orang yang kusayangi”, ujar Joonmyeon.

Joohye lagi-lagi terdiam mendengar ucapan Joonmyeon. Tapi tak lama kemudian, sebuah senyum tergambar di wajahnya. “Neomu Gomawo….eung…ngomong-ngomong, apa kau sibuk?”

“Ani..wae?”, jawab Joonmyeon.

“Bagaimana jika aku mentraktirmu makan siang sebagai ucapan terima kasih dan juga permintaan maafku?”, Tanya Joohye.

“Ah….gurae? Hm..”, respon seraya berpikir. “Selama ini belum pernah ada yeoja yang mau mentraktirku hahaha…arasseo gurae! Kaja!”, ujar Joonmyeon bersemangat.

***

04.00 pm

Jaehee dan Kyungsoo berjalan bersama menuju Yonghan. Setelah bicara banyak hal tentang mengapa selama ini Kyungsoo menghindar darinya dan juga saling bertukar kabar tentang kehidupan mereka selama beberapa tahun terakhir mereka tidak bertemu satu sama lain. "Ya...apa namjachingumu tak akan marah kau pergi seharian dengan namja lain?", tanya Kyungsoo.

"Namjachingu mwo? Namjachingu eobseo", jawab Jaehee santai.

"Kim Joonmyeon-"

"Sudah putus....aku dan Joonmyeon sudah putus sejak tiga bulan yang lalu", potong Jaehee. "Chakkaman!", seru Jaehee tiba-tiba. "Kau tahu aku berpacaran dengan Joonmyeon?! Kau memata-mataiku ya?!"

"Psh...mwoya? Siapa yang tak tahu tentang hubunganmu dan Joonmyeon?", jawab Kyungsoo santai.

Jaehee mendengus kesal. "Gurae...gwenchana...lagipula kami sudah berakhir", jawab Jaehee melanjutkan kembali perjalanannya.

"Wae?", tanya Kyungsoo.

"Eobseo...kami putus karena memang kami sudah tak cocok", ujar Jaehee. "Ia sibuk dengan urusannya sendiri dan mulai melupakan hubungan kami...Sedangkan ia berpikir bahwa aku tak bisa mengerti kesibukannya sebagai ketua mahasiswa", ujar Jaehee. "Kami tak bisa saling mengerti"

"Tapi sepertinya kalian masih terlihat dekat", ujar Kyungsoo.

"Kedua orangtua kami berteman baik...bagaimana mungkin aku tak juga berteman dengannya meskipun hubungan kami sudah berakhir", ujar Jaehee. "Sepertinya...kami memang lebih cocok berteman saja", ujar Jaehee.

"Kau...masih mencintainya?", tanya Kyungsoo hati-hati.

Pertanyaan Kyungsoo tadi, membuat Jaehee menghentikan kembali langkahnya. "Ah mwoya?! Kenapa kau bertanya begitu?!", sungut Jaehee.

"Ah wae? Kalian itu dulu sepasang kekasih...jadi kurasa wajar jika kalian masih saling menyukai", ujar Kyungsoo.

Jaehee menghela nafas. "Moreugesseo...Aku tak yakin apa aku benar-benar menyukainya"

"Kalau kau tak menyukainya, kenapa dulu kau menerimanya? Yeoja memang sulit dimengerti", gerutu Kyungsoo.

"Ya!!", seru Jaehee. "Aku terpaksa menerimanya juga karena dirimu! Jika saja kau muncul sejak awal aku dan Joonmyeon pasti tidak akan-", Jaehee mendadak terdiam mematung, menyadari apa yang baru saja dikatakannnya. Ia menutup kedua mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. "Neo paboya Moon Jaehee!!! Apa yang baru saja kau katakan?!!", gumam Jaehee dalam hati.

"Mwo? Naega? Naega wae?", tanya Kyungsoo tak mengerti.

"Ah...hahahaha malam akan tiba! Ayo kita kembali sebelum gerbang asrama ditutup! Kaja!", seru Jaehee mengalihkan perhatian. Ia hendak mendahului Kyungsoo. Namun namja itu menarik bagian belakang kerah bajunya.

"Yaa!!", berontak Jaehee.

"Nan gidaryeo", ucap Kyungsoo.

"G-Gidaryeo mwo?", tanya Jaehee gugup. SREEET~ "Ya! Ya Kyungsoo-yaaa!", berontak Jaehee ketika Kyungsoo menarik kerah bajunya dan mendorong Jaehee hingga memepet dinding. Kedua tangannya bersandar pada tembok seolah menjebak yeoja agar ia tak mencoba melarikan diri.

"Masih ada dua jam sebelum malam datang...aku menunggu kau menjelaskan apa yang kau katakan tadi tentang diriku", ujar Kyungsoo datar.

"A-Ani...aku...a-aku hanya asal bicara! Jincharo! Ah mwoya ige?! Kita harus kembali ke asrama!", desak Jaehee panik, namun namja itu sama sekali tak bergerak dari hadapannya membuat Jaehee hanya bisa tertunduk tanpa berani menatapnya.

"Heokshi neo....", gumam Kyungsoo terdiam sesaat menatap Jaehee. "Kau menyukaiku?"

"N-Nee?!", seru Jaehee terkejut.

"Jawab pertanyaanku", ujar Kyungsoo tegas. "Apa kau menyukaiku?", tanya Kyungsoo sekali lagi. Namun Jaehee hanya terdiam tertunduk. "Kau tak mau menjawabnya?", tanya Kyungsoo lagi, namun lagi-lagi yeoja itu hanya diam seribu bahasa. Kyungsoo kemudian maju selangkah lebih dekat pada Jaehee semakin memepet yeoja itu.

"Y-YA KYUNGSOO-YA MWOHAE?!", seru Jaehee panik.

"Kau mau menjawabnya atau tidak?", tanya Kyungsoo tegas namun lagi-lagi hanya diam yang didapatnya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada Jaehee hingga...

"AAAH ARASSEO ARASSEO!", seru Jaehee tiba-tiba sambil memejamkan matanya berusaha agar tak menatap Kyungsoo.

Seulas senyum tergambar di wajah Kyungsoo.Namja itu pun kembali mundur, memberi ruang di antara dirinya dan Jaehee.

Jaehee menghela nafas sejenak. "Ne! Nan Neol johahae!", ujar Jaehee mengakui namun dengan nada menggerutu. "T-Tapi s-sekarang aku tak menyukaimu sebanyak dulu ara?! Kau jangan besar kepala ya! Aku terpaksa mengakuinya karena kau memaksaku! karena aku tahu kau tak memiliki perasaan yang sama denganku maka aku akan melupakanmu dan aku-", ucapan Jaehee yang tak tahu kemana arah dan tujuannya tersebut, mendadak terhenti ketika Kyungsoo membungkamnya dengan bibirnya. Kedua mata Jaehee melebar karena terkejut dengan apa yang dilakukan namja itu. Sebuah perasaan aneh menelusup dalam dirinya. Semua terasa familiar baginya.

Tak lama kemudian, Kyungsoo mengakhirinya lebih dulu. "Kau ini banyak bicara sekali", gumamnya datar.

"M-Mian", jawab Jaehee gugup. Wajahnya lagi tertunduk demi menutupi rasa malunya.

"Seharusnya kau mengatakannya padaku sejak dulu...sejak sebelum kau pindah ke Busan", ujar Kyungsoo.

Jaehee mengangkat wajahnya dan menatap Kyungsoo penuh tanya. "Aku mengatakannya atau tidak, tak akan ada bedanya", gumam Jaehee tertunduk lesu setelahnya.

"Tentu saja ada!", gerutu Kyungsoo.

Jaehee mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk. "Mwo?"

Kyungsoo menghela nafas pelan. "Jika kau mengatakannya padaku sejak awal, aku tak akan bersembunyi. Aku bersembunyi karena aku berpikir bahwa kau membenciku karena aku tak bisa berbuat apapun untuk mencegahmu dan keluargamu pindah ke Busan!", seru Kyungsoo.

"M-Mwo?", tanya Jaehee.

"Jika aku tahu dari awal bahwa seseorang menungguku dan mencariku, aku tak akan pernah bersembunyi", ujar Kyungsoo menatap Jaehee.

"G-Gurae? Mianhae...maka dari itu sudah kukatakan juga...aku tahu sejak awal kau tak menyukaiku...gwenchana", gumam Jaehee salah tanggap, berpikir bahwa kini Kyungsoo lah yang membenci dirinya.

"Psh...neo jincha...sepertinya kau memang benar-benar tak peka...pantas saja Joonmyeon tak tahan denganmu", ledek Kyungsoo.

"Yaa! Ah neo wae gurae?! Kenapa kau dan Taehyung harus selalu menghubungkanku dengan Joonmyeon?! Sudah kukatakan kami sudah berakhir!", gerutu Jaehee kesal.

"Ara! Aku tak tuli!", balas Kyungsoo. "Aish jincha...bicara denganmu benar-benar menguras energiku...bahkan apa yang kulakukan tadi tak berarti apapun bagimu", gerutu Kyungsoo.  Ia melengos begitu saja dari hadapan Jaehee.

Jaehee terdiam sesaat memikirkan kalimat terakhir dari ucapan Kyungsoo tadi. "Y-Ya Kyungsoo-ya chakkaman!", seru Jaehee mengejar Kyungsoo lalu ia mengaitkan lengannya pada lengan namja itu. "Kau juga menyukaiku matchi?"

"Ani...aku tak mengatakan apapun tentang perasaanku", jawab Kyungsoo datar sembari terus melangkah santai meskipun Jaehee bergelayut manja padanya.

"Ah mwoya! Lalu kenapa kau menciumku?", ledek Jaehee.

"Molla", jawab Kyungsoo datar.

"Yaa! Daedaphae!", desak Jaehee.

"Shireo", jawab Kyungsoo datar.

"Mianhae....Aku hanya tak mau berpikir terlalu jauh bahwa kau menyukaiku tapi ternyata kau tak memiliki perasaan apapun padaku tapi...jika memang benar kau menyukaiku....kau menyukaiku matchi?", tanya Jaehee lagi sambil menatap penuh harap pada Kyungsoo agar namja itu menjawab "iya".

"Psh jincha", gerutu Kyungsoo tertawa pelan. Ia kemudian mengalungkan lengan kirinya pada leher Jaehee seraya merangkulnya. "Berhentilah bertanya banyak hal...aku bukan komputer terprogram yang bisa menjawab pertanyaanmu dalam sekejap saja", ujar Kyungsoo.

"Psh...jincha", gerutu Jaehee. Tentu saja ia mengerti maksud dari ucapan namja itu sebelumnya. Ia hanya ingin mendengar langsung dari Kyungsoo bahwa namja itu juga menyukainya. "Apa sulitnya mengatakan bahwa kau juga menyukaiku?", gerutu Jaehee pelan.

Kyungsoo menoleh menatap Jaehee dan ia lalu sengaja menjepit yeoja yang tengah dirangkulnya tersebut setelah mendengar apa yang dikatakan Jaehee tadi.

"Ya! Yaaaa! Aphaa!!", berontak Jaehee memukul-mukul lengan Kyungsoo dan mendorong namja itu. "Ah jincha neo! Aish...apha", gerutu Jaehee sambil memijat-mijat lehernya sendiri.

"Geuman...aku bahkan tak menekannya sama sekali", ujar Kyungsoo tenang.

"Ish...menyebalkan sekali", gerutu Jaehee kesal karena usahanya untuk mencari perhatian gagal total.

"Psh...kaja", ujar Kyungsoo kembali menarik Jaehee ke dalam rangkulannya. "Besok kau ada perkuliahan sampai jam berapa?", tanya Kyungsoo.

"Eung...sepertinya sampai sore..wae?", tanya Jaehee.

"Temui aku di cafe kampus begitu kau selesai", ujar Kyungsoo sambil menatap lurus ke depan. "Aku akan mentraktirmu makan apapun yang kau suka", sambungnya.

Jaehee menoleh memperhatikan namja di sampingnya tersebut. Seulas senyum muncul di wajahnya. "Jincha?!", tanya Jaehee dengan mata berbinar.

"Eung", jawab Kyungsoo.

"Assaaa!!", ujar Jaehe bersemangat. Ia turut melingkarkan lengan kanannya pada punggung Kyungsoo seraya memeluk namja itu. "Gomawooo...namjachingu", ledek Jaehee.

"Psh...mwoya", gumam Kyungsoo tertawa pelan. "Gurae...kaja", ujarnya mengeratkan rangkulannya pada pundak Jaehee sembari berjalan bersama menuju Yonghan.

Tak lama setelah kepergian keduanya, dua orang yeoja terlihat tengah memperhatikan Jaehee dan Kyungsoo yang berjalan menjauh. "Akhirnya Yin & Yang bertemu juga...sugohaesseoyo", ujar salah satu dari yeoja tersebut.

"Psh...aku tak melakukan apapun...Seeun-ah", ujar Yeoja yang ternyata adalah Nayeon.

"Mworagoyo? Bukankah kau yang mempertemukan mereka?", tanya Seeun yang disambut gelengan pelan Nayeon.

"Ani...mereka bertemu karena memang mereka sudah ditakdirkan untuk bertemu...aku hanya mempermudah pertemuan mereka saja...bukan hanya Jaehee & Kyungsoo, tapi juga yang lainnya...", ujar Nayeon tersenyum.

"Guraeyo? Lalu...apa yang harus kita lakukan sekarang?", tanya Seeun.

"Eobseo...kurasa untuk sementara, element-element itu akan tetap bertahan dalam diri pemilik mereka masing-masing...semakin kuat hubungan antar para pemilik element-element tersebut, maka element-element tersebut akan bertahan semakin lama dalam diri mereka...kita bisa beristirahat dengan tenang...Seeun-ah", ujar Nayeon tersenyum.

"Dahaengida....tapi entah mengapa...setelah sempat membantu mereka kemarin, aku merasa sedikit sedih karena harus berpisah dengan mereka", ujar Seeun tersenyum getir.

"Gwenchana...kau masih tetap bisa 'mengawasi' mereka", hibur Nayeon. "Oh...dan satu lagi...ada seseorang yang sepertinya harus kita beri 'hadiah' atas segala hal yang ia lakukan untuk melindungi ke-12 element dan juga reflection strength mereka", ujar Nayeon sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Nugu?", tanya Seeun.

***

Two Weeks Later....

Tok! Tok! Tok!, terdengar ketukan di pintu ruang kerja Minhyuk. "Masuklah", ujar Minhyuk yang tengah disibukkan memeriksa tugas mahasiswanya. 

"Annyeonghaseyo ssaem", terdengar suara Joonmyeon.

"Joonmyeon-ah? Wae?", tanya Minhyuk yang tak merasa memanggil Joonmyeon.

"Ah...aniyo...eum...Appa memintaku untuk mengantar dosen baru yang akan mengajar dan mengenalkannya padamu", ujar Joonmyeon.

"Dosen...baru? Aku tak mendengar kabar bahwa ada dosen baru yang akan mengajar di sini", ujar Minhyuk bingung.

"Nado ssaem....tapi Appa segera merekrutnya karena ia adalah sepupu termuda dari Ibuku", bisik Joonmyeon.

"Mworago?", tanya Minhyuk.

"Ia belum lama menyelesaikan S2nya di luar negeri dan segera kembali ke sini untuk mengejar mimpinya menjadi seorang dosen...Appa dan Eomma memintamu untuk membimbingnya selama ia menjadi dosen di sini", ujar Joonmyeon.

"Ah...g-gurae?", tanya Minhyuk. Entah mengapa ia mendadak merasa gugup.

"Chakkamanyo ssaem...aku akan memanggilnya", ujar Joonmyeon keluar ruangan sejenak dan masuk kembali tak lama kemudian, bersama seorang yeoja yang kira-kira berusia tiga puluh tahunan, namun ia masih terlihat cantik. "Perkenalkan Ssaem, ini bibiku...", ujar Joonmyeon.

"Annyeonghaseyo...naneun....Song Juhee imnida", ujar yeoja itu membungkuk sopan pada Minhyuk.

DEG! Minhyuk mematung selama beberapa saat kala melihat yeoja itu. Ia memperhatikan yeoja itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. "A-Alice?"

Juhee dan Joonmyeon menatap Minhyuk dengan tatapan bingung. "Alice nugu?", bisik Juhee pada Joonmyeon yang segera disambut dengan gelengan dari namja itu. "J-Jogiyo...Alice, nuguseyo?", tanya Juhee pada Minhyuk.

"Ah! J-Jweisonghamnida", gumam Minhyuk salah tingkah setelah tersadar dari lamunannya. "A-Alice adalah...m-mendiang istriku...kau.......mirip sekali dengannya...Jweisonghamnida", gumam Minhyuk salah tingkah.

"Ah...g-gurae?", tanya Juhee ikut merasa salah tingkah.

Menyadari atmosfir yang muncul saat itu, maka Joonmyeon pun memutuskan untuk pergi. "Ah...Juhee imo, aku akan meninggalkanmu bersama Minhyuk ssaem....ia adalah sonsaengnim yang hebat sekali! Kau bisa belajar banyak darinya...hwaiting!", ujar Joonmyeon pada Juhee. "Geureom...Minhyuk ssaem, na kalkkeyo...aku sudah berjanji untuk menemui Joohye...permisi, annyeong", ujar Joonmyeon tersenyum penuh arti dan secara perlahan menarik dirinya dari ruangan Minhyuk.

"Mannaseo bangapseumnida Al-m-maksudku...Juhee-ssi", ujar Minhyuk malu-malu.

"Neodo mannaseo bangapseumnida...", balas Juhee tersenyum pada Minhyuk.

-THE END-


Tags:
Komentar
RECENT FAN FICTION
“KANG MAS” YEOJA
Posted Rabu,16 Juni 2021 at 09:31
Posted Senin,20 April 2020 at 22:58
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 23:42
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:08
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:07
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:07
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:06
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:06
FAVOURITE TAG
ARCHIVES