DREAMERS.ID - Masih ingat dengan kasus misterius namun simpang siur hebat soal pembunuhan jurnalis senior Arab Saudi, Jamal Khashoggi yang hingga kini tak ditemukan jasadnya? Sebagian pihak, utamanya Turki mengklaim ia dibunuh oleh pihak Arab Saudi sendiri karena dianggap menentang kerajaan.
Ia disebut ‘dimusnahkan’ dengan cara yang tidak manusiawi hingga jasadnya larut tak bersisa. Sementara pihak Arab Saudi membantah hal tersebut, namun memecat beberapa tokoh keamanannya. Dan yang terbaru, pengadilan Arab Saudi menjatuhkan hukuman mati kepada 5 terdakwa pembunuhan.
Menariknya, baik pihak Amerika dan Turki memberikan respon yang berbeda. Meski belum ada pernyataan resmi setelah vonis keluar, pejabat senior pemerintah Donald Trump menganggap hukuman itu sebagai langkah penting.
"Ini adalah langkah penting dalam meminta pertanggungjawaban atas kejahatan mengerikan ini, dan kami mendorong Arab Saudi untuk melanjutkan proses peradilan yang adil dan transparan," kata pejabat tersebut yang berbicara dalam kondisi anonim seperti dikutip The Hill, Selasa (24/11).
Sementara Pemerintah Turki tidak puas dengan hukuman tersebut dengan alasan dalang utama pembunuhan Khashoggi tidak tersentuh hukum. Ankara, ibu kota Turki menganggap vonis tersebut sebagai putusan gagal.
"Fakta bahwa aspek-aspek penting seperti nasib jasad Khashoggi, dalang pembunuhan dan setiap kolaborator lokal tetap dalam kegelapan adalah selang keadilan yang mendasar dan melanggar prinsip akuntabilitas," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy dalam sebuah pernyataan.
Pelapor Khusus PBB yang menyelidiki kematian wartawan tersebut, Agnes Callmard, juga tidak puas dengan putusan pengadilan Saudi. “Intinya: para pembunuh bayaran bersalah, dihukum mati. Dalang tidak (dihukum), hanya berjalan bebas. Mereka hampir tidak tersentuh oleh investigasi dan persidangan," kata Callamard."Itu adalah kebalikan dari keadilan. Itu adalah ejekan."
Melansir Sindo News, kematian Khashoggi memicu kemarahan internasional termasuk seruan di Amerika Serikat untuk meninjau kembali hubungan Washington dengan Riyadh. Namun, Presiden Trump, bagaimanapun, menentang hukuman keras terhadap Riyadh, dengan alasan aliansi AS-Saudi diperlukan untuk melawan Iran dan melindungi sumber pasokan minyak global. Dia juga berargumen bahwa pemutusan hubungan akan merugikan produsen senjata AS.
Persidangan kasus ini sendiri berjalan hampir setahun dan ditutup untuk umum. Wakil JPU Saudi, Shaalan juga mengatakan, tiga pejabat tinggi dibebaskan, termasuk mantan penasihat top Putra Mahkota Mohammad bin Salman, Saud al-Qahtani. Ahmed al-Assiri, mantan wakil kepala intelijen, dan Mohamed al-Otaibi, yang merupakan Konsul Jenderal di Konsulat Saudi di Istanbul ketika pembunuhan itu terjadi, juga dibebaskan.
(rei)