CHAPTER 30 : AKU MENYUKAINYA
Aku terbangun dengan rasa pegal di seluruh kakiku. Aku ingat kalau aku habis berlari jauh, sudah lama aku tidak berlari secepat itu. Aku juga merasa mataku sedikit sembab, tapi aku tetap berusaha membuka mata. Tempat ini tidak asing. Meja belajar, lemari ukuran sedang, cermin yang berdiri diujung ruangan. Ini kamarku. Aku berada di Jeounju sekarang. Aku mengambil ponselku yg ternyata menujukan pukul 4 pagi. Cahaya matahari belum terlihat, hanya ada pemerangan lampu dari luar kamarku.
Kai. Pria itu membawaku kesini. Pilihan yang tepat, meski hatiku masih merasakan sakit, rumah ini mampu memberikan hatiku kehangatan. Tapi mengapa dia memilih tempat ini? Seolah mengerti betul keinginanku. Aku berdiri didepan jendela menghadap langit yang ternyata masih menampakan cahaya bulan, aneh, bulannya sangat besar dan bersinar meski waktu sudah hampir fajar.
Aku bergidik ngeri dan berjalan keluar kamar. Mencari sosok pria yang entah mengapa ingin sekali ku lihat wajahnya. Ternyata ia tidak tidur, malah berdiri didepan jendela, memandang langit. Aku sedikit menyembunyikan tubuhku dibalik dinding dan memandanginya. Begitu sempurna, yah dia berdiri tegap dan meletakan tangannya didalam saku, wajahnya disinari cahaya bulan. Aku terpana, ia terlihat seperti patung bangiku, begitu cantik dan menawan. Apakah semua anak immortal seperti itu? Dan apakah negeri dongeng terasa seperti ini?
Aku baru sadar bahwa aku memasuki sisi lain dunia saat aku memandang wajahnya. Tapi aku tidak bisa terus begini, haruskah ku sapa dia? Atau kembali ke kamarku?
"Kemarilah" dia bersuara dan membuatku terperanjat. Dia tahu aku disini tanpa menoleh.
"Kau sudah bangun?" Aku tertangkap basah memandanginya, bersikap biasa saja akan sedikit membantukun
"Aku bahkan tidak tidur" balasnya. Aku berjalan dan duduk di sofa. Dia masih diam dan hanya menolehku sekali. Aku mencoba untuk tidak canggung tapi sepertinya percuma.
"Omong-omong, terima kasih telah membawaku kesini, aku jadi merasa lebih baik sekarang" Dia tidak mejawab, aku ingin memulai obrolan lagi tapi entah bagaimana. Aku jadi hanya diam di sofa dengan canggung.
"Lebih baik kau kembali tidur, aku akan kembali ke kamarku" aku bangkit namun sebelum aku melangkah suaranya kembali terdengar.
"Kau mirip sekali dengannya, itu yang membuat mereka takut" aku berhenti dan menoleh kearahnya. Dia balik menatapku.
"Roseline, mereka menganggapmu adalah renkarnasinya" ia kembali menatap langit, namun kini tangannya bersandar pada bibir jendela.
"Kau mungkin sudah pernah mendengar ceritanya, tapi masih banyak yang belum kau ketahui, aku yakin mereka akan semakin memburumu jika kau telah mengetahui segalanya"
Aku diam dengan degupan jantung yang tak menentu. Kisah horor ini masih berlanjut ternyata, padahal wajahnya tadi baru menunjukan sejuknya surga.
"Tapi aku harus tetap memberitahumu, apapun yang terjadi" dia menghembuskan napas, seperti sulit mengungkapkan. "Roseline, kata orang-orang dia dikaruniai kekuatan yang begitu hebat karena ia adalah keturunan dewi, tapi ada yang bilang ia dan keluarganya memiliki kekuatan karena bekerja sama dengan iblis" Kai memulai cerita yang bahkan belum aku setujui.
"Tapi tidak satupun informasi itu benar, aku sangat mengetahuinya" ia membalikkan badan dan menatapku. "Duduklah, aku ingin kau mendengarkannya dengan baik" katanya sambil melipat tangan.
Aku menurutinya dan duduk kembali di sofa tanpa mengatakan apa-apa. Dia berjalan kesisi lain rumahku dan menatap bingkai-bingkai foto yang terpajang diatas meja. Matanya mengarah pada foto masa kecilku. Aku tahu dia tersenyum, tapi samar.
"Para vampir takut padamu" ia menoleh kearahku, ia seperti hampir tertawa. "Sangat menggelikan jika tahu sekelompok vampir yang memiliki kekuatan takut pada anak SMA yang bahkan tidak tahu apa yang harus diperbuat" lalu wajahnya kembali murung. "semua orang memburumu karena mereka pikir kau adalah dia"
"Apa karena aku mirip dengannya? Roseline?" Suaraku sedikit bergetar, entahlah mungkin rasa manusiawiku datang. Rasa takut.
Kai mengangguk dan berjalan kearahku "tidak hanya mirip, bahkan ada ramalan mengenai dirimu" Kai duduk dihadapanku.
"Ramalan itu berkata bahwa golden compass akan kembali pada pemiliknya. Dan pada saat itu terjadi vampir akan binasa dan penyihir akan jadi pemenangnya, Roseline akan lahir kembali dan memusnahkan kami semua, kami semua itu termasuk sahabat-sahabat penyihirmu, dia akan lahir saat bulan bersinar terang dan matahari terasa terang, meski awan tebal menutupi seluruhnya, dan semua itu merujuk padamu" dia memandangku kesal.
"tidak mungkin" aku berdecak.
"Aku juga tidak percaya" wajah Kai kembali terlihat serius "kau bukan dirinya, kau adalah dirimu" ucapannya membuatku terdiam.
"Asal kau tahu Roseline tidak pernah berpihak pada penyihir..." Kai kembali bersadar pada sofa dan wajahnya kembali terlihat santai. "Begitu juga pada kami, karena dia bukan bagian dari penyihir maupun vampir, maka dari itu tidak ada bagian dari kami yang juga berpihak padanya maupun juga dirimu" dia bersandar di sofa memandangku sesaat. Tangannya kembali terlipat dan matanya kembali menerawang jauh entah kemana.
"Roseline adalah musuh bagi kami semua, tidak ada satupun dari dua kelompok yang mengakuinya sebagai ratu mereka, jadi dapat disimpulkan bahwa semua orang membencimu termasuk teman-teman penyihirmu itu, jadi... meski kau diminta untuk percaya pada mereka, aku sarankan jangan lakukan itu, mereka-"
"Aku berusaha menebak-" kataku memotong. Ada sesuatu dalam diriku, seperti rasa kesal yang membuat hatiku panas. "-apa yang sedang kau rencanakan, kau ingin mempengaruhiku? Atau mencoba menarik simpatiku? Jangan pikir dengan tidak adanya Luhan kau bisa mencoba menghasutku" itulah kata-kata yang tiba-tiba terucap. Tapi aku memang merasa Kai berusaha merendahkan para penyihir.
"Selama ini aku mencoba memahami siapa bulan dan matahari itu" lanjutku. "Kau pikir aku bodoh? Golden compass ini akan kembali pada pemiliknya, akan kembali ke matahari"
"Dan kau pikir anak matahari adalah anak-anak penyihir itu?!" Kai sedikit membentak, ia mencondongkan tubuhnya. "Mereka terlalu buruk untuk disandingkan dengan benda yang menjadi sumber tata surya di planet ini, tidakkah kau berpikir lebih jernih lagi siapa matahari itu?" wajah Kai terlihat kesal.
"Ya! Roseline, matahari!" Kai menjawab pertanyaannya sendiri dengan kesal "Karena dirinya golden compass menjadi benda yang menentukan hidup dan mati kami, karenanya para penyihir tidak memiliki kekuatan untuk menjadi penguasa atas dunia ini" Kai membuang muka karena terlalu kesal. Ia terdiam sesaat sebelum menyeringai "Hah, jelas saja mereka tidak menceritakannya padamu" Kai kembali memundurkan tubuhnya. "Golden compass itu memiliki keuatan yang hanya dapat digunakan oleh penyihir, pemiliknya bisa sangat sakti, bahkan dia bisa menyalurkan kekuatannya pada orang lain, aku tidak tahu bagaimana caranya tapi jika itu terjadi dunia akan sangat dimanfaatka oleh para penyihir. Dan siapa yang akan memiliki golden compass itu? Raja penyihir, keparat itu dan saudara-saudaranya adalah suruhan terpercaya Raja penyihir. Mereka akan membagi kekuasaan jika golden compass itu berada ditangan mereka, dan mereka akan menguasai dunia"
"Cukup!!" Aku menting tanganku. Tujuan Kai sudah jelas, ia ingin mempengaruhiku. Semua yang dikatakannya tidak masuk akal.
"Jika kau ingin tahu kebenarannya, kenapa kau hanya mendengar cerita dari satu pihak saja? Tidak bisakah kau mencari kebenaran dengan cara yang adil?" Aku terdiam. Tanganku mengepal kuat diatas sofa, memandang mata Kai yang juga menatapku.
Aku hampir menangis. Rasanya aku ingin berhenti mencari tahu semua rahasia yang ada, berhenti untuk mendengar informasi apapun. "Aku hanya ingin berhenti mendengar kebenaran yang belum tentu benar" ucapku parau dan menunduk dalam.
"Lepaskan kalungnya"
Aku terdiam, kemudian mendongak. "Lepaskan kalung dari Luhan. Kau bisa memakainya lagi setelah kau mendengar penjelasanku. Tidak ada salahnya untuk hari ini saja percaya padaku" dia menatapku dalam. Haruskah aku percaya padanya? Segelintir memori tentang dirinya terputar, saat dia menolongku dijalan waktu itu, saat dia membopongku ke klinik sekolah, ketika ia memelukku saat aku hampir terjatuh.
"Ana, tidak ada salahnya kau melepaskan kalung ini" suara batin membantuku. Tapi tunggu. Ayahnya, ia pasti masih merasa dendam padaku. Karena aku dia kehilangan Ayahnya. Ini pasti hanya akal-akalannya dan semua yang ia lakukan tidak tulus. Tujuannya hanya ingin mempengaruhiku kemudian membunuhku perlahan. Satu-satunya orang yang harusnya sangat membenciku adalah dirinya.
"Tidak akan" ucapku sambil mengenggam kalung itu.
Kai menyeringai, matanya terlihat sangat kesal dan memandangku tajam. "Kesabaranku habis, aku bilang lepaskan" dia bangkit dan membanting tubuhku. Tangannya merengku leherku dan mencoba melepaskan pengait kalungku. Aku mencoba mendendang kakinya tapi tidak bisa. Aku menarik tangannya untuk menjauhi leherku. Namun dengan cepat kalung itu terlepas dan Kai menjauhkannya.
"Kembalikan!!" Teriakku. Dia menahan bahuku dan menaikan tangannya. Menjauhkan kalung itu. Matanya menatapku dia tidak berkata apapun dan menahanku sampai aku ikut terdiam.
Setelah itu dia menarik kembali tangannya dan berdiri menjauh. Aku memperhatikannya yang kembali duduk dihadapanku. Aku masih pada posisiku sebelum kembali sadar dan membenari posisi dudukku.
"Merasa lebih baik?" Tanyanya setelah cukup lama aku terdiam. Aku tidak mengerti dengan pertanyaannya, merasa lebih baik apa? Aku tidak merasakan perubahan apa-apa.
"Kau membentakku dengan kasar dan berteriak di telangaku, hah, sangat menganggu"
Tubuhku menegak, apa aku tadi melukainya? Apa aku berkata kasar padanya?
"Maaf aku tidak bermaksud, aku tidak tahu kenapa..." kenapa dengan diriku?
Tunggu, sekarang aku mengerti maksudnya. Aku baru menyadari bahwa aku mudah tersulut amarah. Dan aku mudah menaruh curiga pada orang. Aku bukan tipe orang yang mudah marah. Aku lebih acuh dan menerima informasi yang aku terima. Dan yang terpenting aku bukan tipe orang yang mudah nyakiti orang lain dan membentaknya seperti itu.
"Apa kalung itu mempengaruhiku?" Tanyaku pada Kai dengan nada kecewa.
"Tanyakan saja pada dirimu apa kau merasa berbeda saat melepas kalung ini?"
Aku merasa lebih tenang dan merasa bersalah. Itu perasaanku sekarang, selebihnya aku kecewa pada diriku sendiri.
"Karena kau percaya pada orang yang memberimu kalung ini, kau membiarkannya mempengaruhimu, kau tidak mengelak saat sesuatu mengubah dirimu, itu yang membuat aku yakin kalau kau tidak mungkin renkarnasi Roseline"
Kai benar, selama ini aku membiarkan emosi mempengaruhi diriku, cara berpikirku. Tapi entah mengapa cara itu membuatku merasa terlindungi, membuatku lebih kuat. Dan aku membiarkan diriku berubah tanpa memikirkannya. Sikap kasarku kepada Ibu, tangisanku yang begitu emosioanal, selama ini aku tidak pernah seperti itu. Aku memang tidak menyukai keluarga baru Ibuku tapi bukan berarti aku harus lari dari rumah dan meninggalkan Ibu seperti itu. Dan pernyataan Kai mengenai Roseline menjadikan perasaanku lebih sedih.
"Lalu kenapa saat itu kau mengembalikan kalung ini jika kau tahu kalung ini mempengaruhiku?" Aku ingat saat kejadian kehilangan kalung ini.
Kai menunduk sesaat untuk melihat kalung Luhan yang sudah berada ditangannya, "Karena didalam kalung itu terdapat permohonan miliknya, permohonan agar kau selalu terlindungi, aku tidak tahu tujuannya memberi permohonan itu saat mereka berharap kau tidak pernah ada, tapi aku senang ia memberikan permohonan itu apapun tujuannya" sekarang ia menatapku.
Saat seperti ini aku melihat Kai sebagai manusia biasa. Matanya yang sayu, kulitnya yang tidak terlalu pucat, dan rambut yang jatuh menyentuh alisnya.
"Maafkan aku, tapi aku berharap kau masih mau melanjutkan ceritamu" aku menundukan kepalaku, merasa serba salah.
Kai mengangguk "Roseline bukan seorang penyihir, keluarganya adalah keturunan tabib hebat, mereka bisa meracik ramuan yang bisa menyembukan dan membahayakan manusia, mereka juga dibilang istimewa karena berteman dengan makhluk mitologi yang memiliki kekuatan gaib dan sudah hidup beratus-ratus tahun. Mereka mempelajari ilmu pengobatan, sampai mereka melakukan percobaan dengan membuat ramuan yang dapat membuat manusia hidup kembali" Kai menyandarkan kembali tubuhnya "itu salah satu kebodohan terbesar mereka, ingin melawan takdir Tuhan"
Aku terbawa dengan kata-kata yang diucapkannya, aku mendengarkannya dengan baik "Sampai suatu hari mereka benar-benar menciptakan ramuan itu dan menyimpannya sebagai rahasia besar, sebagian tabib yang iri dan menginginkan ramuan itu bekerja sama dengan iblis. Mereka menebarkan penyakit mematikan dan sulit disembuhkan. Salah satu tabib yang pertama kali menggunakan ramuan itu adalah Ibu dari Roseline. Ia meminumkan ramuan pada suaminya yang sekarat tapi ternyata ia malah menciptakan monster yang selalu menginginkan darah segar manusia. Monster yang hidup abadi, sayangnya dalam waktu tertentu mereka akan berubah menjadi manusia yang menyeramkan, tubuh mereka akan berubah rapuh, persis mayat hidup dan mereka tidak bisa melakukan apapun dan tidak dapat berburu darah segar lagi. Untuk bertahan hidup segala cara mereka lakukan salah satunya mendengar hasutan Iblis. Mereka disarankan memiliki keturunan yang dapat melindungi mereka dan mencari makanan untuk mereka. Anak-anak mereka harus memiliki kekuatan maka dari itu mereka disarankan untuk menikah dengan para penyihir"
"Bodohnya, para penyihir itu adalah para tabib yang menjadi pengikut Iblis, mereka memiliki kekuatan yang didapat dengan menyembah mereka"
"Dan bagaimana dengan Roseline? Dia memiliki kekuatan seperti penyihir dan bahkan membuat Golden Compass itu" tanyaku dengan antusias.
Raut wajahnya berubah. Ia jadi terlihat sedih, aku mendengarnya mengembuskan napas berat. "Untuk menyelamatkan manusia, kedua kelompok harus dimusnahkan dari bumi ini. Itu sebabnya Roseline mempelajari banyak hal dan dari siapa saja, namun itu tidak cukup. Akhirnya ia pergi ketempat seseorang yang dipercaya memiliki kekuatan yang diturunkan oleh dewa. Roseline mempelajari banyak darinya dan pada suatu waktu orang itu berkata ia mengakhiri hidupnya dengan cara mengirimkan kekuatannya pada Roseline agar bisa mati. Roseline menerima kekutan itu dan tumbuh menjadi peracik ramuan dengan kekuatan yang hebat. Ia juga menciptakan golden compass dan melindungi masyarakat. Namun ada satu rahasia yang ia simpan sebelum ia mati ditangan Ayahnya sendiri. Orang-orang bilang itu adalah rahasia cara membinasakan kami. Tapi tidak satupun yang pernah memiliki golden compass itu tahu caranya. Mereka hanya dihantui mimpi buruk bertahun-tahun dan hidup bersama, separuh jiwa-jiwa pemilik sebelumnya yang tersimpan di golden compass itu. Sama seperti yang kau alami sekarang"
Apa itu? Semua cerita itu begitu terasa nyata seolah aku pernah mengalaminya. Seolah aku bisa membayangkannya. Dan aku percaya. Semua yang dikatakan Kai seperti kebenaran bagiku. Aku merasa ada yang mengerti bagaimana posisiku sekarang ini.
"Jika kau ingin mengetahui kelanjutan ceritanya, kau bisa datang di ruang pertemuan, rasanya kurang bijak jika kau mengetahui segalanya dariku. Kau juga bisa membaca buku mengenai cerita penyihir sebenarnya di ruang pertemuan mereka. Tapi aku yakin mereka enggan menunjukan ruangan itu padamu" wajah Kai berubah sedikit lebih damai.
"Yang aku harapkan adalah jika kau tidak percaya pada kaumku maka jangan mempercayai penyihir, jika kau ingin mengetahui tetang kebenaran tanyakan pada musuhnya. Terkadang musuh mungkin akan melebih-lebihkan cerita tapi kau bisa mengetahui kebenaran dari mereka, sisanya terserah padamu percaya atau tidak"
Aku pernah dengar kata-kata ini sebelumnya. Setahuku jika sebuah ungkapan dikatakan berulang oleh orang yang berbeda itu adalah salah satu bukti kebenaran.
"terima kasih telah memberitahu semua cerita itu padaku, aku tidak tahu kenapa kau terlihat tidak membenciku dan selalu mencoba menolongku. Aku tidak tahu kenapa kau bercerita seolah aku tidak berada dikedua pihak. Aku akan mengingat cerita ini dengan baik dan mencaritahu benar atau tidaknya" aku hampir saja berbicara mengenai Ayahnya, tapi mungkin tidak sekarang.
Tanpa sadar ternyata Kai sudah berdiri dihadapanku sambil menyodorkan kalung pemberian Luhan. Aku mendongak dan meraih kalung itu. Aku menatap sebentar kalung itu.
"Aku tidak membutuhkan kalung ini jika hanya untuk melindungiku" Ucapku "karena aku tahu siapa yang bisa melindungiku lebih dari siapapun dan apapun, aku ingin kau yang melindungiku, karena untuk sekarang aku sangat percaya padamu" aku menatap matanya tanpa ragu. Aku bersunguh-sungguh dengan kata-kataku ini. Aku percaya padanya. Karena aku melihat ketulusan saat ia menceritakan semua itu. Wajahnya sedikit terkejut.
Aku tidak tahu mengapa ia belum membunuhku sampai sekarang. Aku yakin masih ada dendam dihatinya untukku. Mungkin untuk saat ini ia memiliki tujuan lain dan mengesampingkan dendam dihatinya. Aku harap suatu hari nanti aku benar-benar bisa memberitahu permintaan maafku dan rasa dukaku atas kepergian Ayahnya. Saat aku yakin itu tidak akan melukai hatinya. Dan saat itu tiba aku akan rela jika hidupku berakhir ditangannya. Entah dari mana keyakinan yang aku dapat, tapi ini bisa jadi akibat dari satu hal. Aku menyukainya.
-
"Dad?" Ayah menoleh sekilas dan meletakan bekas sarapanku di westafel.
"Ana, Daddy bilang tidak ada yang mengikutimu, sekarang kau harus berangkat ke sekolah, oke?" Ayah mengusap ujung kepalaku dan bergegas masuk kedalam kamarnya. Aku berjalan keluar dan membuka pintu rumah. Diluar ternyata ada Luhan yang mengulurkan tangannya.
"Ayo aku temani ke sekolah" katanya sembari tersenyum. Aku meraih tangannya dan melangkah keluar rumah. Tapi kemudian aku terjerumus kedalam sebuah lubang besar. Lututku mengeluarkan darah yang banyak dan bajuku sudah sangat kotor untuk pergi ke sekolah. Aku bangkit dan menyadari bahwa aku sedang berada disebuah ruangan yang gelap tapi aku berdiri diatas sebuah batu besar. Aku tidak tahu harus melangkah kemana tapi kemudian aku melihat Kai berdiri tak jauh dariku, ia berada dibatu kecil bersebrangan denganku, kami dipisahkan oleh jurang yang cukup besar. Ia tersenyum. Aku membalasnya tapi menyadari ternyata para vampir berdiri dibelakangnya berusaha meraihnya dengan mata merah dan mulut penuh darah.
"Raih tanganku" aku mengangkat tangan dan berdiri diujung batu. Kai masih tersenyum dan menangkat tangannya mencoba meraih tanganku.
"Cepat" ucapku takut para vampir itu lebih dulu menariknya. Aku hampir meraih tangannya tapi gagal dan jatuh masuk kedalam jurang yang cukup dalam. Rasanya tubuhku mati rasa, tubuhku mulai tak bertenaga, aku mendongakan kepalaku. Cahaya putih menyilaukan mataku. Mantel dengan bulu hangat menyelimuti tubuhku. Mantel itu bersinar begitu juga wanita dihadapanku. Ia duduk dan meraih tangannku.
"Roseline" ucapku parau. Ya itu dia wanita itu. Dia wanita yang sering muncul dimimpiku, kadang muncul bayangannya dicerminku. Namun sekarang aku dapat melihay wajahnya. Astaga dia mirip sekali denganku, aku seperti sedang berkaca. Tangan kami bersentuhan seolah kami adalah bayangan yang terpantul dari cermin. Ia tersenyum padaku dan matanya yang indah berkaca-kaca.
"Terima kasih" ucapnya. Kemudan sinar yang terang menerpa wajahnku. Aku mengusap mataku dan bangkit.
"Ana kau disini?" Suara itu menyadarkanku. Aku duduk diatas tempat tidur dan memandang keluar jendela yang memancarkan sinar matahari.
"Nenek?" Ia duduk disampingku dan menatapku.
"Kau bertengkar lagi dengan ibumu?" Tebaknya. Aku mengangguk ragu. Apakah aku ini mudah ditebak, nenek Han langsung tahu aku sedang bertengkar dengan ibuku.
"Nenek apa kabar? Baik-baik saja kan?" Tanyaku sambil memandang wajahnya yang pucat dan kriput.
Iya tersenyum dan mengangguk "Turunlah aku akan siapkan makanan" ia mengusap rambutku dan beranjak pergi.
Aku terdiam sejenak untuk menyadari bahwa aku baru saja bermimpi. Biasanya mimpiku akan sangat banyak dan menyiksa. Tapi aku hanya ingat satu mimpi. Aku bertemu Roseline. Kebetulan di kamarku ada kaca yang cukup pajang. Aku berdiri didepannya dan memandang wajahku yang kemudian teringat akan Roseline.
"Astaga, tidak tidak tidak" aku langsung menutup wajahku dan berajak ke kamar mandi untuk membasuk wajahku. Tidak mungkinkan aku reinkarnasinya? Ini gila. Mungkin wajahnya hanya kebetulan mirip denganku. Tidak! Wajahnya tidak mirip. Hidungnya sempurna dan matanya lebih besar. Rambutnya juga sangat pirang, bulu matanya tebal dan... kenapa dia berterimakasih kepadaku? Selama ini dia hanya minta tolong, berteriak, merintih. Sangat menyeramkan bila mengingat itu. Ah lupakan saja, lupakan.
Aku mengitari halaman belakang setelah melihat ruanh tamu yang kosong. Apa Kai sudah pergi? Apa ini kebiasaanya untuk meninggalkan aku disini? Dia selalu saja menghilang saat aku kembali terbangun di pagi hari. Nenek Han sempat menanyaiku tapi aku tidak berkata apapun mengenai Kai. Mungkin memang hanya tugasnya mengantarku, tidak lebih. Ia tidak harus berbaur dengan kehidupanku disini kan?
"Kenapa melamun saja?" Nenek Han menegurku.
"Tidak" aku kembali memakan rotiku.
"Nenek, kenapa Ayah tidak menjual rumah ini saja? Kenapa membiarkan rumah ini tidak berpenghuni? Membiarkan semua barang ini disini seoalah tidak ada yang berubah"
"Ayahmu mau saja menjualnya tidak Ibumu melarangnya"
"Apa? Bukannya Ibu yang ingin meninggalkan rumah ini?"
"Ana" nenek Han membelai rambutku, "banyak yang belum kau ketahui nak, rumah ini akan selamanya milik Ayah, Ibu dan milikmu, tidak satupun dari kalian yang ingin meninghalkan rumah ini"
"Lalu kenapa mereka berpisah?"
"Karena masih banyak hal yang harus mereka dahulukan"
"Apa itu lebih penting? Apa mereka dulu seegois itu sampai memikirkan kepentingan mereka sendiri? Bagaimana dengan aku? Apa mereka tidak memikirkanku"
"Kau mau tahu bagaimana suasana ketika kau lahir?" Nenek Han mengenggam tanganku. Tangannya hangat. "Saat itu penghujung musim semi, kami semua merasa kedinginan, aku bersama seorang bidan membantu Ibumu melahirkan di rumah ini. Kami tidak sempat membawa Ibumu ke rumah sakit. Kebetulan Ibu Taecyon adalah seorang bidan" Nenek Han tertawa sambil matanya menerawang. "Semua orang sibuk, Ayahmu sangat panik dan orang-orang datang untuk menjenguk padahal rumah sudah sangat sempit. Dan ketika suara tangismu terdengar semua orang berteriak gembira, kau tau di komplek ini jarang sekali bayi perempuan" Nenek Han tertawa lagi. Aku terbuai dengan ceritanya, aku suka mendengar hal-hal yang membahagiakan. Senyumku tak memundar sambil mendengar ceritanya.
"Ayahmu sampai berjanji akan membuat pesta dirumahnya kalau anaknya perempuan, haduh itu hal yang sangat lucu, dan saat itu harusnya kami merasa kedinginan karena musim dingin hampir tiba, tapi suasana rumahmu jadi begitu hangat, bahkan keesokan paginya aku seperti mencium wangi bunga berkemaran, seolah musim semi mulai kembali, sungguh"
Aku tertawa mendengarnya. "Komplek ini begitu hangat dan tentram sejak kelahiranmu, tangismu menjadi selimut kami di pagi hari. Tawamu menjadi pengantar tidur kami dimalam hari. Setiap hari ada saja yang berkunjung untuk menemuimu, dan ingin menggendongmu, tangan kecilmu saat menggenggam tangan kami terasa sangat hangat. Wangimu seperti wangi bunga bermekaran"
"Nenek tahu, mendengar hal itu hatiku jadi merasa hangat, aku seperti sangat disayang disini, beruntungnya aku saat itu" aku mengaggam tangan nenek Han erat.
"Aku pun merasa hal yang sama, aku merasa sangat bahagia melihatmu lahir dan tumbuh, kedamaian begitu terasa saat itu, tapi kenapa semua hal buruk terjadi membalikkan dunia Ayah dan Ibumu? Tidakkah kau bertanya dengan hal itu? Disamping dengan bertanya mengapa Ayah dan Ibumu berpisah?" Nenek Han mengusap pipiku lembut. Tangannya yang ringkih mengusap lembut pipiku. "Kau harus tanyakan langsung pada mereka, itu hak mu untuk dapat penjelasan, aku rasa itu perlu dilakukan mengingat kau sedang mencari kebenaran"
Aku memeluk nenek Han dengan erat. Ia mengusap punggunggu dengan tangan hangatnya. Rasanya hatiku tenang mendengar ceritanya, rasanya pikiranku menjadi tenang mendapat pelukkannya.
"Aku akan membuatkan nenek kue yang sering aku buatkan dulu, ah andai aku masih ingat resepnya"
"Kau bisa bertanya Ibumu, aku yakin dia pasti masih ingat resepnya, tapi kau harus berbaikan dulu dengannya arrachi?" Aku mengangguk dan kami tertawa. Tangan Nenek Han masih terus mengusap punggungku membuatku ingin kembali tertidur.
-
"Ana... Ana..." aku terbangun dengan suara dan tangan yang membangunkanku. Aku membuka mata dan mendapati Ibuku disana.
"Mom" aku duduk ditempatku dan aku melihat jelas wajah sedih Ibuku. Ia langsung memelukku dengan erat.
"Maafkan aku Ana, harusnya aku tidak membiarkanmu pergi, harusnya aku melindungimu, maafkan Ibu yang tidak pernah jadi Ibu yang baik untukmu"
Aku melepaskan pelukannya. "Mom kesini karena masih ingat rumah ini kan?" Ibuku mengangguk. "Berarti Mom juga ingat bagaimana dulu aku mempunyai Ibu terbaik dalam hidupku dan aku tidak memilikinya lagi setelah umurku tujuh tahun"
Air mata Ibuku berlinang.
"Bisakah Mom kembali seperti dulu?" Begitu juga air mataku. "Meski kita bertiga tidak bisa bersama seperti dulu, tapi aku ingin Mom menyayangiku seperti dulu, sehangat dulu" aku menyeka air mataku "meski kita terpisah cukup lama dan mulai tidak saling mengenali, bisakah Mom memperlakukan aku seperti sepuluh tahun yang lalu? Anggap saja aku anak yang tidak pernah Ibu tinggalkan dan aku masih Ana yang Ibu sayangi, Aku..."
Ibu langsung memelukku saat aku sudah tidak mampu berkata lagi. Mengungkapkan sesuatu yang terpendam lama membuat hatiku sakit. Tapi ada rasa lega didalamnya.
"Maafkan aku Ana" Ibu membelai rambut panjangku. "Mom berjanji akan menebus segalanya, Ibu janji kita akan seperti dulu lagi, mungkin kita akan sering bertengkar tapi kita akan melewati itu dan lebih mengenal lagi, dan kita akan jadi seperti dulu lagi" Ibu menghela napas "Ana... Anaku sayang maafkan Ibu ya"
Aku tersenyum dan memeluknya lebih erat.
"Maafkan aku juga"
Ibuku benar, mungkin pertengkaran ini akan membawa hubungan kami menjadi lebih baik. Kita akan melewati pertengkaran-pertengkaran lain layaknya Ibu dan Anak. Entah mengapa aku senang dengan hal itu.
Dari punggung Ibu aku melihat hari telah sore, tidak ada matahari yang bersinar. Apa aku tidur cukup lama? Aku ini apa memangnya tidur sampai seharian. Selalu jika ada kesempatan tidur aku akan tidur sangat lama.
"Oh ya" aku melepaskan pelukan dan mengedarkan pandanganku. Sepertinya Nenek Han sudah pulang ke rumahnya. "Ibu masih kenal Nenek Han kan? Dia yang dulu membantu Ibu menjagaku" Ibu mengangguk sedih.
"Sepertinya Nenek Han sedang pulang ke rumahnya, jika ia melihat Ibu disini Nenek Han pasti sangat senang"
Alis Ibuku berkerut "Apa?"
Aku tersenyum "Nenek Han tadi pagi bercerita banyak tentang ku dulu..."
"Ana" menyentuh pipiku. Cukup membuatku tekejut.
"Apa kau bermimpi?" Ibuku tampak sedih lagi. "Kami semua juga merasa kehilangan, aku menyesal dengan kepergian Nenek Han"
"Apa maksud Mom?, aku tidak mengerti"
"Nenek Han sudah meninggal tiga hari yang lalu" jawab Ibuku dengan ekspresi sama bingungnya denganku.
Aku tertawa "itu tidak mungkin, tadi pagi ia yang membangunkanku wajahnya terlihat sangat sehat bahkan dapat berjalan dengan baik" aku menatap Ibuku yang memasang wajah datar.
"Nenek Han sudah berumur 85 tahun, jalan saja sudah tertatih mungkin dia juga sudah tidak sanggup berjalan normal" aku jadi teringat sekitar satu bulan yang lalu saat aku mengunjungi Jeonju, ya Nenek Han bahkan sudah sulit berbicara. Dan aku tersadar. Apakah aku bermimpi.
"Tapi tadi pagi terasa sangat nyata" mataku kembali berkaca-kaca "Nenek Han bercerita bagaimana ketika aku dilahirkan, dia membantu Ibu melahirkanku kan bu? Dia merawatku, aku dan Ibu suka memberinya kue, bagaimana tadi pagi itu hanya mimpi, aku tidak mungkin tidur seharian" aku mengusap pipiku. "Ayo kita ke rumahnya, oh paman Ok pasti tahu rumah Nenek Han, ayo kita kesana Mom, dia masih sangat sehat dan Mom pasti akan sangat terkejut"
Aku bangkit tanpa menunggu respon dari Ibuku. Aku berlari keluar pintu dan menelusuri jalan. Hari itu sudah sore dan jalanan sudah sangat sepi. Aku berlari mengingat-ingat rumah Taecyon dan Paman Ok. Nenek Han, tidak tidak aku belum sempat mengatakan apa-apa padanya, aku belum sempat membuat kue lagi untuknya. Tidak tidak tidak.
Aku sampai di rumah paman Ok. Ia dan Taecyon tengah membereskan buah-buahan dan bersiap tutup karena waktu sudah sore. Dengan napas yang tak beraturan aku mendekati paman Ok.
"Oh Ana?" Aku berjalan mendekat.
"Nenek Han, aku ingin bertemu dengannya paman, paman tahu dimana aku bisa menemuinya?" Paman Ok tidak menjawab malah menoleh pada anaknya. Wajah keduanya terlihat bingung.
"Kau mau masuk dulu? Paman akan siapkan makan malam, Taecyon tolong kau lanjutkan beres-beresnya ya"
"Paman tidak menjawab pertanyaanku, dimana Nenek Han?" Air mataku hampir keluar. Tidak tidak, aku tidak ingin mendengar kabar buruk.
"Ana" Ibu datang menyusulku dan menarik tanganku, namun aku segera menghempaskannya.
"Paman tadi pagi Nenek Han menemuiku dia..."
"Nenek Han sudah meninggal" Taecyon bersuara, matanya tidak menatapku.
Aku terdiam sesuatu menyekat tenggorokanku membuatku sulit bicara
"...dia membuatkan aku sarapan, kami mengobrol lama paman percayalah padaku, tadi pagi kami bertemu" aku menitikan air mata. Otakku menolak semua informasi namun hatiku mempercayai bahwa Nenek Han sudah tiada. Mengapa? Sungguh kontradiksi yang membuat dadaku sesak. Aku tidak ingin ditinggalkan, aku tidak ingin seorang pun meninggalkanku, sekali pun itu nenek Han. Ah, kenapa?
-
Kami berdiri didepan sebuah foto dengan lilin. Ada juga bunga-bunga yang terlihat masih segar. Taecyon dan Ayahnya berdiri didepanku, memberi hormat kepada sebuah foto yang aku tahu adalah foto Nenek Han. Aku masih berdiam dan berdiri. Namun tidak lama kemudian tangan Ibu menggenggam bahuku. "Mungkin Nenek Han sengaja mengunjungimu lewat mimpi, dia ingin kau tahu bahwa dia juga menyayangimu"
Aku tidak tahu tapi air mataku mudah sekali jatuh tanpa aku mau. Beberapa jam lalu yang aku tahu aku melihatnya tersenyum padaku tapi disini suasananya berubah. Aku hanya melihat sebuah foto dengan wajah datar Nenek Han dan wangi bunga bela sungkawa. Ibu menarikku maju ke depan mengantikan posisi Taecyon dan Ayahnya kami duduk disana dan Ibu memberikan penghormatan. Aku hanya diam jiwaku seperti melayang entah kemana.
"Halmeoni, maaf aku baru bisa berkunjung sekarang, kau pasti sudah melihat Ana kan? Ya dia tumbuh sangat cantik dan sehat. Aku sangat menyesal tidak pergi mengantarnya kesini saat ia sudah kembali ke Korea, tapi aku senang kau merawat rumah kami sampai akhir hayatmu dan membuat Ana punya tempat untuk pergi"
Aku berusaha menahan haruku tapi tidak bisa. Aku terus mengalihkan wajah sambil mengusap pipiku.
"Ana kami... tumbuh dengan baik dengan Ayahnya. Sama sepertinya aku pun ingin mengulang kenangan indah seperti dulu" aku menoleh kearah Ibuku, dan Ibuku balik menatapku "meski tidak sama lagi, kami akan berusaha semampu kami untuk kembali bahagia" Ibuku terseyum padaku dan kembali menatap kedepan "terima kasih Halmeoni yang selalu menyayangi keluarga kami dari dulu hingga sekarang, semoga Halmeoni berada di surga sekarang" setelah kata-kata Ibuku, aku baru berani menatap foto Nenek Han. Dihidupku aku diberkahi orang-orang yang mencintaiku, kenapa aku selalu ingin beranjak pergi? Kenapa aku selalu mengeluh tentang hidup ini? Dulu aku tidak punya alasan untuk meneruskan hidupku. Tapi sekarang alasanku untuk mempertahankan hidupku makin kuat. Aku tidak ingin suatu hari menyesal karena melihat orang-orang yang mecintaiku pergi tanpa sempat aku berbuat apa-apa.
"Aku sangat senang melihat Ana dan Ibunya mengunjungi Jeonju, wah komplek ini akan terasa seperti dulu" ucap paman Ok dengan tawa khasnya.
"Ne, terima kasih juga Ayah Taecyon sudah membantu menjaga rumah kami, aku dan Mark merasa sangat berterima kasih"
Ibuku dan Ayah Taecyon saling membungkuk. Sudah sepuluh tahun lamanya mungkin mereka berdua masih merasa canggung sama seperti aku dan Taecyon sekarang yang hanya terdiam di halaman rumahnya sambil mendengarkan percakapan orangtua kami. Meski sempat makan bersama tidak banyak obrolan yang bisa kami ceritakan. Kami lebih banyak bercerita mengenai Nenek Han.
Nenek Han hidup sebarang kara. Dulu ia tinggal bersama suaminya yang pandai mengobati orang. Mereka adalah penjual obat-obat herbal dipasar. Ketika aku sakit Nenek Han sering memberiku obat herbal. Namun suaminya tidak lama meninggal karena terjatuh saat perjualan di pasar. Nenek Han tidak mempunyai anak dan hidup sebagai janda selama puluhan tahun. Mendengar cerita itu ia pasti sangat sedih ketika aku pergi ke San Fransisco bersama Ayah dan tidak pernah mengunjunginya. Aku jadi kembali merasa bersalah. Tapi aneh rasanya ternyata bukan cuma aku yang sedih atas perpisahan Ayah dan Ibuku. Andai aku tahu aku masih ingin tinggal disini meski Ibu dulu memilih pergi.
Hari ini banyak hal yang mengejutkanku. Dari soal Kai yang datang membawaku kesini, cerita tentang Roseline dan semua hal tentang Nenek Han. Apa ada lagi yang bisa lebih mengejutkanku?
"Ana" aku menoleh kearah Taecyon yang memanggilku. Dia menundukan wajahnya namun aku dapat lihat sekilas bahwa wajahnya sedang tidak begitu ramah.
"Aku tahu kau tidak pernah sendiri pergi ke Jeonju kan?" Aku meneggakan badanku dan menyadari maksud Taecyon. Apa dia melihat Kai mengantarku? Gawat jika Ibuku tahu, ia pasti akan bertanya aneh-aneh.
"Apa yang kau bicarakan" aku mengecilkan suaraku berharap Ibu tidak dengar percakapan kami.
"Aku tidak akan bicara kepada siapapun tentang hal ini, tapi aku tahu siapa pria itu" matanya tajam menatapku. Aku berusaha mencerna kata-katanya.
"Dia sudah lama mengawasimu, bahkan saat kau masih tinggal disini" aku meneggakkan berdiriku dan menarik tangan Taecyon untuk menjauhi pintu.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, jadi bicaralah yang jelas" aku terlihat sedikit emosi memang tapi aku sangat terkejut dengan kata-katanya.
"Pria yang bersamamu itu, aku ingat sekali wajahnya, wajahnya tidak pernah berubah dari sepuluh tahun yang lalu" alisnya terangkat dan tangannya terlipat. Taecyon menatapku aneh. "Aku tidak tahu bagaimana dia menemukanmu dan bagaimana kau bisa sangat akrab dengannya, yang aku tahu dia bukan manusia sembarangan"
Taecyon tahu kalau Kai adalah anak Immortal? Bagaimana ia tahu? Apa Taecyon sudah pernah bertemu dengan Kai sebelumnya? Aku gugup dan takut, semua ini mengejutkanku. Sebelum aku bertanya lebih lanjut dengannya Ibuku dan Paman Ok keluar dari rumah.
"Apa tidak masalah menyetir malam-malam? Apa Anda tidak berniat menginap dulu?" Ujar Ayah Taecyon.
"Tentu saja, aku memang berniat untuk menginap disini" jawab Ibuku.
"Tunggu, Mom mau menginap?" Tanyaku.
"Ne, Ibu sudah membawakanmu baju juga" Jawabnya dengan senyum sumringah. Benar, aku bisa bicara dengan Taecyon besok kalau begitu.
"Baiklah kami permisi, terima kasih makan malamnya, aku dan Ana akan beristirahat di rumah kami" Ibuku pamit dan aku mengikutinya dari belakang.
"Kita bicara lagi besok" ucapku sekilas pada Taecyon sebelum aku pergi.
Hal ini kembali mengejutkanku memang. Sepertinya aku akan dapat informasi baru. Dia sudah lama mengawasimu. Apa maksudnya Kai sudah mengawasiku sejak lama? Apa itu maksudnya? Aku menoleh sebentar kebelakang dan melihat Taecyon yang masih menatap kepergian kami dengan ekspresi yang tidak seperti biasanya. Tenang, Aku akan temukan jawabannya besok.
-
Wah, lama tidak berjumpa semua. Iya iya aku tau ini udah kelewat lama buat update cerintanya. Salah satu dari sekian banyak alasannya adalah draf FF ini sempet keapus dan aku lupa harus lanjutin ceritanya gimana, aku takut banget ngerusak cerita ini T_T
Tapi aku baca lagi ceritanya dan mulai inget. Semoga FF ini bisa aku selesain yah, dan aku mohon maklum banget soalnya aku lagi di semester terakhir jd lagi sibuk sm tugas akhir *you-know-what
Makasih yang masih nanyain cerita ini lewat komentar disini atau di Wattpad. Ahh,, mianhae yeorobun, saranghanda...