Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda
line official dreamers
facebook dreamers
twitter dreamer
instagram dreamers
youtube dreamers
google plus dreamers
How It Works?
Dreamland
>
Fan Fiction
Into The Void
Posted by KaptenJe | Kamis,09 November 2017 at 20:07
5
19160
Status
:
Ongoing
Cast
:
Produce 101 season 1 & 2
Into The Void

CHAPTER 21 : CHAPTER 20

"Geunyang--", teeett~ tak lama kemudian terdengar bel pintu rumah berbunyi. "Eo? Apa mereka sudah pulang?", gumam Daniel. Ia dan Hyungseob segera beranjak untuk melihat siapa yang baru saja memencet bel. Bukan Jonghyun, Jieqion, Sejeong, ataupun Seongwoo, melainkan. "Eo?? Ya mwohae?"

"Yoo Seonho??", seru Hyungseob setelahnya.

***

Car

11.20 PM

Jihoon berlari kencang, dan tak ada seorang pun yang bisa mengejarnya bahkan hingga mereka kehilangan jejak. Jonghyun memutuskan untuk mencari menggunakan mobil bersama Jieqiong, Shiyeon, Guanlin dan Donghyun yang datang bersama Youngmin beberapa waktu lalu. Namun Youngmin mengurus banyak hal di rumah sakit, juga harus kembali ke apartment untuk menemui Dongho. Guanlin memiliki sebuah ide.. yang akhirnya disetujui oleh Jonghyun juga yang lain.

From : Guanlin

Jihoon-a Jebal.

Katakan pada kami jika kau memiliki masalah.

Jonghyun hyung mengendarai mobil dalam keadaan frustasi.

Kurasa kami bisa mati jika ia terus seperti ini.

Beri tahu kami dimana kau berada. Kita masih bisa bicara.

Tak diduga, kebohongan Guanlin membuahkan hasil. Jihoon menelpon nya dan memberi tahu dimana ia berada. Rencana tersebut dapat saja berhasil mentah jika Jihoon sampai tak membaca pesan tersebut, namun nyatanya dewi keberuntungan masih berpihak kepada mereka. Mereka semua segera pergi ke taman kota dimana Jihoon mengaku berada disana. Donghyun memacu mobil dengan kecepatan standard demi keamanan mereka. Mereka masih menyayangi nyawa mereka jadi mustahil membiarkan Jonghyun menyetir dalam keadaan panik seperti apa yang diakui Guanlin untuk mengelabui Jihoon.

Dalam perjalanan, Donghyun menceritakan tentang ia dan Dongho sebenarnya sudah mengetahui pelayan cafe yang mendengar pembicaraan mereka sebenarnya adalah Jihoon. Namun mereka membiarkan Jihoon sendiri agar ia bisa menenangkan hati, mereka tak menyangka bahwa Jihoon justru hampir saja memilih bunuh diri sebagai jalan keluar dari masalahnya

Sesampainya di taman kota, Guanlin berlari lebih dulu dengan Shiyeon setelah turun dari mobil, mereka ingin segera memastikan Jihoon berada disana. “Jihoon-a!!!” Teriak Shiyeon begitu dilihatnya Jihoon duduk di salah satu bangku taman. Shiyeon merasa lega, ia hendak memeluk Jihoon namun Jihoon menolak.

Jonghyun, Jieqiong dan Jonghyun sekarang juga sudah sampai disana. Mereka semua terdiam sesaat. Taman kota sudah cukup sepi mengingat malam sudah begitu larut. Jihoon terus membuang muka. Jonghyun mendekat dan menyentuh pundaknya. Tepat disaat Jonghyun meletakkan telapak tangan di pundak Jihoon, jihoon berkata “Wae~ Ku bilang aku butuh waktu, mengapa kalian terus mengikuti ku?” protes pelan.

“Kami menghawatirkan mu Jihoon-a” Sahut Shiyeon yang berdiri di belakang Jonghyun.

“Jika malam ini Guanlin hendak bunuh diri, lalu gagal.. dan ia masih berniat untuk mengakhiri hidupnya, apa kau akan diam saja?” Tanya Jonghyun. Jihoon tak menjawab “Jihoon-a. Donghyun sudah menceritakan kepada kami mengenai ayah mu.. kami bisa mengerti perasaan mu. Pasti berat bagi mu untuk menerima semua ini..”

“Mengerti? Sejauh apa kau mengerti!” Seru Jihoon meninggi. Ia menepis tangan Jonghyun. Ia tak lagi sanggup berada di dekat mereka.. “AKU HANYA MEMINTA KALIAN MEMBERI KU WAKTU.. BIARKAN AKU SENDIRI!!” Jihoon menjauh 2 langkah dari posisi sebelumnya. Ia tidak bermaksud membentak, ia hanya merasa tak tenang. “Gurae~ Ggh.. katakanlah kalian bsia meneruma kenyataan bahwa aku adalah anak dari seorang buronan yang dikorbankan demi kepentingan orang lain. Gurae..~ hhh hiks.. katakan lah kalian dapat menganggap ku tak mengetahui apapun dan menganggap ku koban.. kundae hyung.. “ Kali ini Jihoon menatap kedua mata Jonghyun “Apa kau masih dapat memaafkan ku juga ayah ku.. jika kau tahu bahwa .. kejahatan yang dilakukan olehnya melibatkan orang tua mu?” Tanya Jihoon penuh penekanan “Sejauh mana kau akan memaklumi nya!! Sejauh apa kau mampu memafkan ku!!!”

Jonghyun tersentak. Bukan karena kenyataan yang Jihoon lontarkan. Namun.. ia heran bagaimana Jihoon mengetahui bahwa peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh ayahnya melibatkan orang tua Jonghyun, juga orang tua beberapa anak boarding house lainnya. Mereka belum menceritakan masalah ini pada banyak orang, bahkan Guanlin, Shiyeon, Hyungseob juga Daniel belum mengerti apapun tentang masalah ini. Jonghyun sontak melempar pandang pada Donghyun.

Donghyun menggeleng, memberi isyarat ia tidak memberi tahu Jihoon. “Kami tidak sedang membicarakan sampai ke sana. Dari mana ia mengetahui hal itu?” bisik Donghyun.

“Apa yang kalian bicarakan sebenarnya? Jelaskan pada ku!” Pinta Shiyeon merasa begitu bodoh karena ia tidak mengerti apapun. Di mobil tadi Donghyun juga hanya bercerita tentang Jihoon mendengar pembicaraan mengenai masa lalu ayahnya yang ternyata seornag buboran yang jebak oleh keluarganya sendiri untuk melakukan penyerangan pada boarding gouse dan menelan baik korban luka juga meninggal dunia. Guanlin menyenfuh tangan Shiyeon, meminta Shiyeon untuk tenang dan tak memperkeruh suasana. Ia yakin cepat atau lambat hyung dan noonadeul akan menceritakan semua ini kepada mereka. Yang terpenting saat ini adalah keadaan Jihoon.

Jonghyun menghela nafasnya berulang kali “Jihoon-a.. kami sudah mengetahui hal tersebut.. kita bisa merembukkan nya bersama. Kau harus menenangkan dirimu, dan tidak bertindak bodoh...”

Air mata Jihoon terjatuh “Kau mengetahuinya.. hh. Hikss.. ghhhh kau mengetahuinya dan memaafkan ku.. aniya hyung.. Hhh. Hhh. Kau tidak boleh memaafkan ku.. aku tidak lagi memiliki muka untuk berada disamping mu. Seongwoo hyung.. Sejeong noona.. aku tidak bisa hyung hikss.. aku..” Jihoon belum berhasil menyelesaikan ucapannya, tapi tubuh Jihoon mendadak melemah dan kesadarannya menghilang.

“Jihoon-a!!” Guanlin, Jonghyun dan Donghyun dengan sigap menahan tubuh anak itu.

“Apa ia baik-baik saja?” Tanya Jieqiong khawatir.

Guanlin emmeriksa nafas dan nadi Jihoon “Ia baik-baik saja noona, tapi ku rasa ia kelelahan, jigeun ottokhae hyung?” Tanya Guanlin pada Jonghyun.

“Jika kalian mengizinkan, sebaiknya Jihoon menginap di apartment ku. Disana juga cukup ramai, jadi ia dapat diawasi.. Sepertinya kita harus memberinya waktu, ia pasti merasa tertekan dengan kenyataan mengenai orang tuanya” Ujar Donghyun.

“Ku rasa itu yang terbaik” Jawab Jonghyun “Kami semua juga butuh bicara.. jagalah Jihoon untuk sementara, Donghyun-a, butakhae”

***

Hospital

11.30 PM

Minhyun membuka matanya perlahan. Samar samar, wajah seorang yeoja muncul di pandangannya. Ia mengedipkan matanya selama beberapa kali, hingga ia terkejut ketika ia menyadari siapa yeoja itu. "Ireonasseo?", tanya yeoja itu tersenyum manis padanya.

Minhyun bangkit dari posisinya dan duduk berhadapan dengan yeoja itu sembari menatapnya tak percaya. "C-Chungha-ya?"

"Eum...Naya...jincha oraenmanetda....", jawab Chungha tersenyum.

Minhyun menggerakkan jarinya dengan hati hati dan menyentuh jari tangan yeoja itu. Namun ia terdiam ketika ia menyadari sesuatu. "Aku....bisa menyentuhmu...solma....", gumam Minhyun menatap Chungha tak percaya. "Na jukgeosseo?", tanya Minhyun berpikir bahwa ia mungkin saja sudah mati.

Chungha tersenyum tipis mendengar pertanyaan Minhyun. "Wae? Neo museowo?"

"A-Ani.....geunyang....", gumam Minhyun ragu  "Aku tak bisa mati sekarang....", gumamnya muram. Ia merasa bahwa masih banyak yang harus dilakukannya dan sosok anak anak boarding house terlintas di pikirannya.

"Gurae? Kalau begitu kembalilah dan selesaikan apa yang harus kau selesaikan", ujar Chungha seolah bisa membaca pikiran Minhyun.

"Ne? A-Apa maksudmu?", tanya Minhyun bingung.

Chungha menggenggam tangan Minhyun. "Dengarkan aku, nae Hwang Minhyun...", ujar Chungha. "Relakan aku....dan terimalah apa yang sudah terjadi..."

"Aniya! Apa kau tahu apa yang terjadi padaku saat ini karena-"

"Karena kau berjanji bahwa kau akan mencari siapa yang membunuhku matchi?", sambar Chungha.

"N-Ne...maja", gumam Minhyun.

"Itu adalah keinginanmu...bukan keinginanku....apa yang terjadi padamu sekarang adalah konsekuensi dari apa yang kau janjikan pada dirimu sendiri. Dendam...itu yang berada di dalam dirimu dan apa yang menimpa orang orang di sekitarmu, itu adalah buntut dari dendam yang membara di dalam dirimu", ujar Chungha. "Jika kau ingin bersamaku, maka tetaplah 'di sini' dan kau tedak perlu kembali ke kehidupan mu", sambungnya.

Minhyun terdiam... ia tak tahu bagaimana harus bersikap saat ini

Cungha kemudian bangkit dan berdiri menjauh dari Minhyun. "Ah, Minhyun-a.. ddan Han saram..”

“Han saram?” Tanya Minhyun

“Eum” Angguk Chungha “Han saram... hanya satu orang yang bisa kau selamatkan....", ujar Chungha.

"Aku sama sekali tak mengerti" Ujar Minhyun bingung.

 “Kau telah diberi hal luar biasa dengan melihat masa depan mu, disisi lain.. sesungguhnya itu adalah siksaan tersendiri karena hal yang telah kau ketahui akan kau lewati mungkin adalah masa-masa yang begitu berat... Namun.. Sekalipun kau mengetahui segalanya.. Bukan berarti kau dapat merubah seluruh takdir yang terlah terukir...", ujar Chungha tersenyum. “Kau dapat kembali ke masa lalu mu dan menyelamatkan satu orang .. jika lebih dari satu.. maka .. itu artinya kau sudah siap menukarnya dengan nyawa mu.”

Minhyun terdiam.. ia mencerna perlahan setiap ucapan Chungha, dan menyadari bahwa apa yang terjadi padanya dan apa yang kelak harus ia hadapi begitu berat. Bagaimana mungkin ia hanya dapat memilih satu dari mereka yang telah pergi sementara ia sudah mengetahui sedikit csrita mengenai kisah tragis yang menimpa orang-orang di masa lalu yang juga berhubungan dengan anak-anak yang kini ada di boarding house .. Sesaat keinginannya untuk kembali hidup sirna, mungkin lebih baik jika ia menyerah.. tapi kemudian... sebuah kata yang chungha katakan membuatnya tersadar..

“Jika kau mati.. maka akan terjadi perubahan besar pada masa depan yang dapat kau lihat saat ini ..” Ujar Chungha “Maka apa yang sedang kau jalani saat ini pun tak lagi akan ada gunanya” Seru Chungha membuat Minhyun berasa begitu tertohok. “Smeua pilihan ada di tangan mu Minhyun-a, Gwenchana.. jika kau merasa tak sanggup mejalaninya, sepeeti yang ku katakan sebelumnya.. tetaplah disini bersama ku..”

"T-Tapi.....", gumam Minhyun ragu. "A-Aku...."

"Neon hal su eobseo matchi?", sambung Chungha yang disertai anggukan pasrah dari Minhyun. "Kalau begitu maka kau harus 'kembali' secepatnya. Nan gwenchana....relakan aku maka aku bisa beristirahat dan memperhatikanmu 'dari sini' dengan tenang. Aku mungkin tak bisa kembali, tapi aku hidup di dalam sini", ujarnya sambil menunjuk dada Minhyun. "Sedangkan kau masih memiliki kesempatan untuk merubah semuanya, kecuali apa yang terjadi padaku.... tapi kau harus memadamkan rasa dendam yang membara di dalam dirimu itu. Jika kau ingin berbuat sesuatu, maka alasanmu untuk melakukan itu adalah karena memang kau peduli pada mereka bukan karena kau ingin membalaskan dendam atas kematianku... mereka anak-anak yang baik, mereka mempercayai dan menyanyangi mu.. kau datang untuk membantu mereka.. Matjwo?", tanya Chungha.

Minhyun terdiam sejenak lalu mengangguk pelan. "Eung.. dengan begitu kau juga dapat tersenyum memiliki namja seperti ku" canda Minhyun, meski air di matanya sudah membendung dan siap menetes. “Aku akan hidup... untuk mu.. untuk mereka yang mempercayai ku”

"Geureotji", ujar Chungha tersenyum bangga. “Saranghae.. Hwang Minhyun” Sosoknya semakin lama semakin memudar sebelum hilang tanpa bekas.

Minhyun refleks membuka matanya “Chungha-a!!” Ia terbangun sambil berteriak “Hhh....hhh....hh...", ia terengah engah dan keringat dingin mengucur dari keningnya. "Ah...jincha...", keluhnya sambil tertunduk menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Ia meraba kepalanya sekali lagi yang kini tertutup perban putih di area kening. Mimpi yang dialaminya tadi terasa begitu nyata baginya. Ia memperhatikan sekelilingnya dan menyadari bahwa kini ia berada di rumah sakit. Ia menoleh ke sisi kirinya dan mendapati dua orang tengah tertidur di kursi tunggu yang berada di dalam kamar rawatnya tersebut. Mereka adalah Seongwoo dan Sejeong. Minhyun turun dari kasurnya hati hati dan melangkah pelan menghampiri keduanya. Ia menarik salah satu kursi lainnya dan duduk tepat di hadapan Sejeong dan Seongwoo. Namja itu terlihat merangkul Sejeong yang tertidur pulas di pundaknya sambil setengah memeluk dirinya, membuat Minhyun mencurigai sesuatu terjadi di antara mereka.

"Hhngh....", Seongwoo bergerak perlahan bermaksud mencoba merubah posisinya Namun ia tak sengaja membuka matanya. "HOAH KKAMJAKGIYA!", serunya terkejut ketika mendapati Minhyun duduk tepat di hadapan dirinya. Minhyun sendiri, yang sudah berkulit puth, terlihat pucat karena kondisinya, membuatnya terlihat sedikit menyeramkan. "YA HWANG MINHYUN!"

"Ya...aku lebih tua darimu", ujar Minhyun tegas.

"Hwang Minhyun hyung maksudku! Ya! Neo kwisinniya?", sungut Seongwoo memegangi dadanya karena terkejut.

"Hhng....wae gurae?", di saat bersamaan Sejeong terbangun. "WOAAH KKAMJAKGIYAAA!", HAP! Seongwoo lekas menutup mulut yeoja itu agar tak mengganggu pasien di kamar lainnya. "Ah kkamjakgiya! jincha! mwohaneun goya?", sungut Sejeong setelah Seongwoo menyingkirkan tangannya dari mulutnya.

"Neone jincha dalmasseo...", ujar Minhyun mengatakan bahwa Seongwoo dan Sejeong begitu mirip. "Apa aku menyeramkan?"

"Ya...mengetahui fakta bahwa kau adalah manusia dari masa lalu saja sudah cukup menyeramkan...lalu kau duduk diam seperti ini sambil memperhatikan kami....ah geureomyo! Jincha museopta!", sungut Seongwoo.

"Geurae? mianhae", gumam Minhyun. "Kau...sudah tak kesal lagi padaku?", tanya Minhyun pada Seongwoo.

"Geu...geugae...", Seongwoo terdiam sejenak dan menatap Sejeong sejenak sebelum kembali menatap Minhyun. "Kami sudah membicarakannya...dengan Sejeongie dan juga uri appa... kami sudah menerima apa yang terjadi...mianhaeyo... kurasa sikapku malam itu begitu berlebihan", ujar Seongwoo tulus.

Minhyun terdiam sejenak memikirkan ucaan Seongwoo. "Menerima semuanya", gumamnya amat pelan. Ucapan namja itu sedikit banyak mengingatkannya pada ucapan Chungha di dalam mimpinya. "Aniya....kurasa aku juga akan bereaksi sama sepertimu jika hal itu terjadi padaku....meskipun aku tak tahu apa yang terjadi saat itu....nado mianhae...", ujar Minhyun.

"Dwaesseo", ujar Seongwoo tersenyum.

"Ah matta! Jihoonnieneun?", sambar Minhyun tiba tiba ia teringat Jihoon.

"Moreugesseoyo....Jonghyun sedang mengejarnya", ujar Seongwoo.

"Ah.gurae? semoga semua baik baik saja", ujar Minhyun. "Ah geundae! bukankah kalian harus ke sekolah besok?"

"Majayo...Wali kelas sudah menegur kami karena absen...geundae...neo ottokhaeyo?", tanya Sejeong khawatir.

"Nan gwenchana!", ujar Minhyun cepat. Ia tak mau membebani anak anak itu. "Sepertinya besok atau lusa aku sudah diizinkan pulang", sambungnya.

***

Kim Donghyun’s Apartment

01.59 PM

Donghyun kesulitan untuk tidur karena terlalu banyak yang terjadi malam ini. Ia semakin kesulitan tidur saat tak sengaja melihat kembali foto yang sejak tadi menyita perhatiannya sepulang Jonghyun dan yang lain untuk mengantar Jihoon tadi. Foto yang sebelumnya menunjukkan hilangnya sosok Hwang Minhyun dna hanya terlihat foto ruangan kosong yg menjadi latar foto, kali ini kembali menunjukkan sosok Hwnag Minhyun seperto foto awal .. tapi dengan jelas Jonghyun menemukan perbedaan pada bagian kening sisi kiri dari Minhyun. Pada bagian tersebut terlihat bekas luka jahitan yang tak terlalu kecil.

“Kau belum tidur?”

“O?” Suara Dongho membuayarkan perhatian Donghyun “Eoh.. aku belum bisa tidur, bagaimana Jihoon?” Tanya Donghyun karena malam ini Jihoon tidur satu kamar dengan Dongho, mengingat tak ada lagi kamar yang tersisa di apartmentnya.

“Ia sempat bangun tadi, tapi tak banyak bicara, ia hanya diam saja.. aku menyuruhnya makan roti dan vitamin. Ia menurut.. kemudian ia kembali tidur” Jelas Dongho “Kenyataan ini pasti begitu berat baginya... keluarga Chaeyeon benar-benar tak memiliki hati”

“Eoh.. maja” Angguk Donghyun.

Dongho memperhatikan foto di tangan Donghyun. “Ya .. apa foto itu masih panas?” Tanya Dongho yang sempat merasakan panas saat sempat memegang foto yang sempat di dilempar ke lantai oleh Donghyun beberapa jam lalu.

“Lebih dari panas.. Ku rasa foto ini bisa membuat ku gila” Donghyun menjelaskan panjang lebar tentang apa yang terjadi kepada foro tersbeut secara berkala dan detil. “Jika ku pikir-pikir lagi, Hwnag Minhyun muda di foto ini wajahnya mirip sekali dengan Hwnag Minhyun yang juga tinggal di Boarding house.. dan lagi..”

“Ya.. paboya, jelas saja mereka mirip, Ini adalah Hwang ajussi muda, Mereka tetap ornag yang sama” Sela Dongho.

“Eii.. Kau pasti belum pernah bertemu dengan Hwang Minhyun yang ku maksud.. bukan Hwnag ajussi, tapi Hwang Minhyun anak baru yang tinggal di boarding house, anak yang baru saja masuk rumah sakit karena menyelamatkan Jihoon hari ini..” Jelas Donghyun “Ah.. tenang kejadian ini.. Anak bernama Minhyun itu juga terluka di bagian kepala, dan harus menerima beberapa jahitan. Begitu cerita Youngmin.. bukankah ini kebetulan yang terlalu aneh? Hoksi....”

***

Hospital Hall

01.59 AM

"Geundae..gwenchana? meninggalkan Minhyun oppa sendiri seperti ini?", tanya Jieqiong khawatir. Tak ada satupun yang bisa menjaga Minhyun di rumah sakit karena hyung-noona line tak lagi bisa membolos karena wali kelas mereka sudah menegur mereka perihal absen mereka dan akan membahas hal ini lusa karena beliau harus keluar kota hari ini. Begitupun juga dengan Maknae lines yang akan menghadapi ujian materi yang tak bisa ditinggalkan.

"Mau bagaimana lagi...kita tak punya pilihan", gumam Seongwoo.

"Besok kita akan segera kemari begitu kita selesai dengan sekolah..ottae?", usul Jonghyun yang segera disambut anggukan oleh yang lainnya.

"Chakkaman", ujar Sejeong tiba tiba menghentikan langkahnya. Ia mengeluarkan smartphonenya dari dalam jaketnya dan menatapnya sejenak. "Aku akan meninggalkan smartphoneku di kamar Minhyun oppa", ujarnya.

"Ya...percuma saja...ia tak bisa memakainya", sungut Seongwoo.

"Aku sudah mensetting panggilan darurat...akan lebih mudah memberi instruksi baginya jika seperti itu", ujar Sejeong mengutak atik smartphonenya sekali lagi untuk mensetting agar smartphonenya tak lagi menggunakan password.

"Ya...bagaimana kau mensetting panggilan darurat untuknya sementara kau meninggalkan smartphonemu? siapa yang akan dihubunginya?", tanya Seongwoo.

"Tombol angka dua akan terhubung padamu dan tombol nomor tiga...Jonghyunnie", ujar Sejeong.

"Naya?? Wae naneun?", sungut Seongwoo.

"Aish lalu siapa lagi yang harus kuhubungi?!", balas Sejeong gerah karena Seongwoo terus saja memprotesnya.

"Ah matne...itu artinya kau membutuhkanku jika sedang darurat heheh..aing...pukkureowo", gumam Seongwoo tersipu malu. "Ah geundae...ah kenapa aku berada di nomor dua? lalu siapa yang berada di nomor satu??", desak Seongwoo.

Sejeong menghela nafas frustasi. "Ya Jieqiong-ah...apa kau mau tukar tambah Jonghyun dengan namja ini?"

"Mworago? Ah shireo!", sungut Jieqiong merangkul lengan Jonghyun cepat seolah takut kehilangan namja itu.

"Ya ya! bagaimana bisa kau berkata seperti itu aish...i yeojaga cham na...", sungut Seongwoo.

"Maka dari itu berhenti protes!", sungut Sejeong lalu bergegas kembali ke kamar Minhyun.

"Ya! siapa nomor satu?!", teriak Seongwoo.

"URI EOMMA!", Balas Sejeong mempercepat langkahnya karena ia frustasi mendengar protes dari Seongwoo.

Jonghyun dan Jieqiong tertawa melihat tingkah teman mereka tersebut. "Ya...neo jincha...bahkan aku yang namja saja merasa kesal mendengar protesmu itu", ledek Jonghyun.

"Eyy shikkeuro...paling tidak aku berada setelah ibunya...aing pukkureowo", ujar Seongwoo tersipu malu.

***

Minhyun's room

2:05 AM

Selepas kepergian Sejeong dan Seongwoo, Minhyun kembali dengan sebuah smartphone di tangannya. Smartphone itu milik Sejeong yang dipinjamkannya padanya untuk menghubungi rumah jika sesuatu terjadi. Sejeong jg sudah mengajarkannya bagaimana cara untuk menghubungi orang rumah dengan cepat. "Argh...", rintih Minhyun pelan ketika kepalanya kembali terasa nyeri.

 "Gwenchanayo?", ujar sebuah suara. Minhyun menoleh dan seorang namja kira kira berusia tiga puluh tahunan duduk di samping kasur rawatnya. Ia mengenali orang itu. "Neon...Park Sungwoo-ssi", gumam Minhyun. Ia memperhatikan Dokter Park dengan seksama. Ia terlihat sedikit berbeda tanpa jas dokternya.

"Majayo", ujar Dokter Park tersenyum.

"Wae dangsineun yogi isseoyo?", tanya Minhyun waspada.

"Geunyang....", gumam Dokter Park terdiam sejenak. "Aku tak sengaja mendengar percakapan teman temanmu ketika pulang tadi dan mereka tak bisa menemanimu karena urusan sekolah...jadi aku berkunjung untuk melihat keadaanmu", ujar Dokter Park.

"G-Geuraeyo?", gumam Minhyun waspada.

Dokter Park mengamati gestur tubuh Minhyun dengan seksama. "Kau....takut Padaku?", tanya Dokter Park.

"A-Aniyeyo...geunyang....aku tak terbiasa...dengan orang asing", gumam Minhyun menghindari tatap mata dengan Park Sungwoo.

Dokter Park terdiam sejenak. "Gurae...kalau begitu aku akan jujur padamu mengapa aku datang menemuimu", ujar Dokter Park. Untuk pertama kalinya, Minhyun menatapnya. "Kau ingat hari dimana kau mengamuk padaku? Kau memintaku untuk memberitahumu sesuatu...mwoyeyo? Apa yang ingin kau ketahui dariku?"

"Ah....g-geugae...", Minhyun terdiam sejenak seraya berpikir. "Aku...aku bertemu dengan seorang namja muda dan ia membawa foto seseorang yang ku kenal....lalu kulihat ia masuk ke dalam ruang kerjamu", ujar Minhyun.

Dokter Park kembali mengingat hari itu dan hanya ada satu orang yang menemuinya kala itu. "Ah...geu namjaga!", ujarnya. "Ia adalah anak dari kakak perempuanku", sambungnya.

"Ia....keponakanmu?", tanya Minhyun.

"Ne....geundae aku tak bisa memberitahu banyak tentangnya padamu...terlalu riskan jika aku memberi info detail tentangnya pada orang lain", ujar Dokter Park. Ia mempelajari ekspresi Minhyun dan ia bisa membaca bahwa ada tanda tanya besar tergambar di wajah namja itu. Ia merasa bahwa namja itu ingin mengetahui banyak hal darinya. Sama seperti apa yang dirasakannya pada Minhyun. "Lalu... foto siapa yang kau maksud? foto yang dibawa oleh keponakanku".

"Aku tak bisa memberitahu hal itu.. terlalu riskan jika aku memberi info detail pada orang lain", ujar Minhyun mengulang ucapan Dokter Park. Pria itu tertawa mendengar ucapan Minhyun.

"Kau cukup cerdas", puji Dokter Park. Ia tak menyangka jika Minhyun tak semudah itu terpancing oleh ucapannya. "Geundae jincha sinkihane", ujar Dokter Park. .

"Waeyo?", tanya Minhyun.

"Aku memiliki pasien lainnya yang juga bernama Hwang Minhyun...hanya saja...nasibnya tak sebaik dirimu...sudah empat bulan terakhir ia mengalami koma karena sebuah kecelakaan", ujar Dokter Park.

DEG! Jantung Minhyun berdegup kencang. "Ada banyak Hwang Minhyun lainnya...bukan hanya diriku", ujarnya.

"Ara...tetap saja hal itu menarik bagiku....memiliki pasien yang sama di waktu yang tak jauh berbeda", ujar Dokter Park..

"Geundae....apa yang terjadi padanya?", tanya Minhyun hati hati.

"Ia mengalami sebuah kecelakaan....mobil yang dikendarainya ditabrak oleh sebuah truk dari arah belakang", ujar Dokter Park.

"Mworagoyo? lalu...apa yang terjadi pada supir truk tersebut?", tanya Minhyun.

"Supir truk itu pergi begitu saja...tapi aksinya terekam oleh cctv yang terpasang di jalan", ujar Dokter Park. "Kurasa seseorang mencoba mencelakainya...polisi sempat mendalami kasus ini tapi aku tak lagi mendengar perkembangannya hingga saat ini", sambungnya.

"J-Jadi maksudmu....seseorang mencoba membunuh Hwang Minhyun?", tanya Minhyun.

"Ne...tapi kurasa keberuntungan masih menaunginya...ia sempat kritis ketika ia dibawa kemari.. dan detak jantungnya hendak berhenti selama beberapa saat hingga tiba tiba....detak jantungnya kembali berdetak tak lama setelahnya...jincha issanghae.. aku tak pernah menangani hal itu sebelumnya...tapi tetap saja ia masih berada di antara hidup dan mati...kau tahu? raganya berada di sini....tapi jiwanya berada di tempat lain....kira kira seperti itulah keadaannya saat ini", ujar Dokter Park.

Minhyun membeku di tempatnya ketika ia mendengar penjelasan dari Dokter Park. Tak lama kemudian, Dokter Park menjawab sebuah panggilan telepon. "Yoboseyo? Ne...aku masih di rumah sakit...waeyo?", tak lama kemudian Dokter Park bangkit dari kursinya. Shock tergambar di wajahnya. "Mworago?? Hwang Minhyun... Darah katamu?? Ne! Ne arasseo aku akan segera ke sana", ujarnya terburu buru. "Jweisonghamnida...tapi aku harus segera pergi..sesuatu terjadi", ujar Dokter Park.

Minhyun mengambil kertas yang satunya lagi dan mulai membaca instruksi di sana dengan seksama. Ia lalu teringat ucapan Sejeong ketika mereka berada di rumah sakit ketika menjaga Daniel. "Ah matta...bukankah Sejeong pernah memberitahuku bahwa kita bisa mencari apapun di sini? Tapi tak tertulis di sini...hmm", gumam Minhyun berpikir. Kemudian, sebuah ide terlintas di kepalanya.

***

NEXT DAY

School. 07.45 AM

Setelah mendapat peringatan tertulis mengenai buruknya absensi mereka, para hyungline dan noona line dalam formasi lengkap mereka, termasuk Jonghyun yang sudah lebih dari 2 minggu tidak masuk sekolah, juga Daniel yang baru saja keluar dari rumah sakit masuk sekolah hari ini. Mereka sempat dipanggil menemui guru pengawas bagian kesiswaanSetelah selesai mendapat pengarahan dari guru pengawas bagian kesiswaan mereka diperbolehkan pergi ke kelas mereka.

Seongwoo dan Daniel masuk lebih dahulu. Kelas pagi itu masih ramai dengan anak-anak yang kerap berlarian dan bercanda-canda karena belum datangnya guru, Sejeong mengikuti dibelakang Daniel dan Seongwoo. Sejak awal mereka masuk saja, beberapa anak sudah melihat dengan tatapan aneh ke arah mereka. Semua siswa di kelas tersebut mendadak terdiam begitu Jonghyun memasuki kelas.

Jieqiong yang berjalan sedikit lambat di belakang Jonghyun, langsung menarik tangan namja itu karena Jonghyun sempat terhenti ketika semua pandangan mendadak terarah kepadanya. Jonghyun yang sebenarnya duduk dengan Chaeyeon tersebut, diarahkan Jieqiong untuk duduk disampingnya. Tak ada sepatah kata pun terucap dari mulut Jonghyun. Ia jelas terlihat berusaha untuk tenang, namun ekspresi wajahnya tidak bisa membohongi bahwa ia tak nyaman dengan situasi saat itu.

PLUK!! Di tengah hening tersebut sebuah penghapus papan tulis mendarat sempurna di kepala Jonghyun sebelum akhirnya terpental ke arah lantai. “YA!!” Pekik Seongwoo bereaksi spontan merasa tidakan tersebut tidaklah sopan. Ia hendak berdiri untuk menghampiri seorang namja yang tadi melemparkan penghapus papan tulis tersebut. Tapi Jonghyun melangnya untuk menegur anak itu. Sejeong juga menarik Seongwoo agar kembali duduk.

Tak diberi teguran, siswa lelaki lain di kelas tersebut mulai mengangkat suara “Ya Kim Jonghyun, kau masih memiliki keberanian datang ke sekolah setelah apa yang terjadi? Seharusnya kau sedikit memiliki rasa malu”

“Ia tidak terbukti bersalah. Jonghyun tidak melakukan apapun!” Pekik Jieqiong juga terpancing amarahnya karena kelakuan teman-teman sekelasnya itu. Jonghyun menyentuh tangan Jieqiong, sebagai isyarat baginya untuk tak menjawabi siswa lain. Dengan perasaan kesal, Jieqiong berhenti bersuara.

“Eii.. Sudahlah.. kau jangan sok suci begitu” Seru Seorang siswa tertuju untuk siswa yang sebelumnya mengejek Jonghyun, nada bicara anak ini menjurus mendukung Jonghyun, tapi... “Kau juga namja kan.. Sebaik apapun kau. Jika kau memiliki Kekasih seperti Chaeyeon mungkin kau juga akan kehilangan kontrol untuk menahan diri agar tak melakukan apapun” Anak itu duduk tak jauh dari Jonghyun, ia berjalan mendekat “Jonghyun-a, apa kau memiliki foto Chaeyeon tanpa busana? Kalian pernah melakukan itu bukan? Eiii., kau harus berbagi dengan kami. Semua siswa disini pasti tak menolak jika kau berikan foto Chaeyeon ahahaha”

Ucapan anak ini memicu siswa lainnya menjadi semakin ribut. “Mana mungkin ia mau berbagi dengan kita. Hahahaha.. Tenanglah Jonghyun, kau namja normal kalau kau tak tahan untuk melakukan pelecehan terhadap Chaeyeon..”

“Jika ia kekasih ku juga mungkin aku akan melakukan apa yang Jonghyun lakukan!!” Timpal namja lainnya. Mereka sungguh tak pernah tertarik dengan gosip mengenai kasus pembunuhan Bae Jinyoung. Yang mereka gosipkan sepanjang waktu selama Jonghyun berada di dalam jeruji besi hingga saat ini adalah kasus buatan Chaeyeon yang mereka percayai kebenarannya.

“Ya Jieqiong-a.. Sejeong-a.. Kalian tinggal bersama dengan Jonghyun.. Kalian juga harus hati-hati. Wajah dan sikap nya berbeda begitu jauh.. atau jangan-jangan kalian... sudah pernah eiiiiii”

Seongwoo semakin panas mendengar ucapan para siswa di kelasnya, terlebih lagi ketika mereka menyebut nyebut nama Sejeong. Memang benar mereka tinggal bersama, namun semua namja di boarding house tak pernah sekalipun berniat melakukan tindakan jahat kepada para yeoja. Mereka menjaga benar batas diantara mereka. Belum sempat Seongwoo bersuara.. BRAKKKK!!!!

Daniel yang sejak tadi tenang, mengebrak kencang meja. Sontak siswa orang disana langsung terdiam. Daniel di kenal tak pernah marah, ia banyak tertawa bahkan sering mentartawai hal-hal yang sama sekali tak lucu. Tapi kali ini.. amarahnya sudah mencapai pucuk kepala. Daniel berjalan hingga berdiri dibagain depan kelas, tepat membelakangi papan tulis kelas, menatap ke setiap sisi dimana para siswa kelas berada. “Seperti ini cara kalian memperlakukan teman kalian?” Tanya Daniel. “Bahkan polisi sekalipun tak bisa membuktikan bahwa Jonghyun terlibat akan semua tuduhan terhadap dirinya. Mengapa kalian menghakimi seseorang atas sesuatu yang tak pernah ia lakukan?” Seru Daniel dengan suara lantang.

“Cih.. uang jaminan bisa saja menembus Jonghyun keluar dari sana, tak perlu membela nya sampai seperti itu.. tak perlu menutupi kesalahan Jonghyun sekalipun kau teman baiknya” Seru Siswa yang sama dengah sebelumnya.

“Uang? Kau pikir kami memiliki lebih banyak uang dibanding Chaeyeon dan keluarganya?” Pernyataaan Daniel barusan menohok sebagian anak di dalam sana. Terlihat dari air muka dan tatap mata mereka yang langsung saling berbisik seolah terbuka pandangannya tentang hal tersebut “Gurae.. Mudah untuk Chaeyeon untuk mengarang-ngarang cerita dan membayar anak lain untuk melakukan kesaksian palsu. Tapi kondisi kami sangat berbeda. Kami bahkan tak memiliki cukup uang untuk menyewa rumah pribadi sehingga kami memilih tinggal bersama dalam Boarding House.. Tak seorang pun betapa sulit dari kalian mengerti dengan baik kondisi kami saat ini.. Seorang teman kami dibunuh, seorang lainnya dijebloskan ke dalam penjara.. beberapa orang lainnya masih diserang sampai saat ini. Kami hanya diam.. kami berniat meminta kalian untuk menolong kami atau sekedar memberi belas kasihan akan banyaknya hal buruk yang yang terus terjadi di sekitar kami.. Tapi bisakah kalian diam dan tidak mengolok-olok seseorang hanya karena ia terus diam dan tak bisa melawan, sementara kalian sendiri juga tidak mengetahui secuil pun kebernaran yang ada?”

Seorang siswa dengan nametag Kim Sanggyun tertera di dadanya mengangkat tangannya, sejak tadi ia ingin bicara, namun begitu takut “Aku selalu bertemu dengan Jonghyun di PC bang dekat taman kota setiap pulang sekolah hingga malam hari. Ia berteman baik dengan pemilik PC bang tersebut. Aku juga mengenal pemilik PC bang tersebut. Kami selalu bercanda mengenai Jonghyun yang hanya memiliki status sebagai kekasih Chaeyeon saja.. Ia tak pernah menghabiskan waktu bersama dengan Chaeyeon. Sejujurnya, aku sedikit kaget begitu Jonghyun dituduh atas kasus pelecehan tersebut” Bela seorang anak yang sering bermain di PC bang milik Donghyun bersama Jonghyun.

Siswa lainnya juga akhirnya angkat suara “Ya ya~~ Kalian namja-namja berotak kotor. Aku juga mantan kekasih Chaeyeon. Ia hanya bertaruh dengan beberapa temannya untuk mendapatkan hati seorang namja. Aku juga korban nya... karena aku meminta putus setelah aku sadar hanya dijadikan bahan taruhan, ia begitu marah, bahkan hingga saat ini, setiap kalia aku dekat dengan seorang yeoja, ia selalu berusha menyakiti yeoja tersebut. Ia gadis gila..  Jika imajinasi kalian sudah begitu gila tentang gadis itu.. kalian coba saja menjadi kekasih anak itu.. rasakan sendiri seberapa besar gadis itu dapat menghancurkan hidup kalian”

“Ku dengar Chaeyeon juga mengincar Bae Jinyoung sebelum Baejinyoung terbunuh” Celetuk seorang siswi bernama Im nayoung “Adik ku satu kelas dengan Jinyoung, dan ia mengatakan bahwa Chaeyeon kerap meletakkan coklat di loker Jinyoung... Tapi Jinyoung selalu menolaknya”

“Jinjaro? Daebak.. Jangan-jangan Jung Chaeyeon sendiri yang membunuh Bae Jinyoung. Awhh.. Soreum” Ujar beberapa siswa siswi lain mulai bergosip dan riuh. Melihat kondisi sudah mulai aman, Daniel kembali ke tempat duduknya. Ia bersalaman dengan Jonghyun sebelum duduk di tempatnya.. Jonghyun tersenyum tanda ia berterimakasih karena Daniel telah melakukan apa yang mungkin akan sulit Jonghyun lakukan sendiri.

Jonghyun mulai merasa lega karena sekarang teman-temannya sudah sibuk bergosip lagi, tapi tak lagi menuduhnya macam-macam, mereka semua balik bergosip mengenai Chaeyeon, yang notabene adalah adik kelas mereka.. siswa bernama Kim Sanggyu yang tadi ikut berkomentar mendadak membahas sesuatu.. “Jonghyun-a.. Pemilik PC bang itu mengatakan bahwa kau tak pernah menyukai Chaeyeon karena itu kau selalu menolak berkencan dengannya meski status kalian sepasang kekasih.. Bukan kah itu karena.. dibanding Chaeyeon kau lebih tertarik pada gadis disamping mu Uhuk!”

“Ya Kim sanggyun!” Pekik Jieqieong dengan wajah yang mulai memerah

“Eheheheh.. Gobaekhae!! Gobaekhae!!” Seru Sanggyun rusuh, membuat siswa lainnya di kelas tersebut mulai menyoraki hal yang sama dengannya “Gobaekhae!! Gobaekhae!!”

Seongeoo, Sejeong dan Daniel terkekeh hebat karena hal tersebut. Dalam hati mereka seolah berkata “Eii mereka tak tahu saja kalau kedua anak itu sudah ‘resmi’..” Mengikuti teman-temannya, Ketiga anak tersebut ikut bersorak “Gobaekhae!! Gobaekhae!! Gobaekhae!”

“Yaedul-a. Jebal eih” Seru Jonghyun malu-malu

“Gobaekhae!! Gobaekhae!!” Seongwoo menaikkan level suaranya, memprovokatori  siswa lain agar semakin semangat menggoda Jieqiong dan Jonghyun. Ia berseru sembari bertepuk tangan.

"Ya..ya..geumanhae", tahan Sejeong merasa malu dengan tingkah namja itu. Namun Seongwoo tak mendengarkannya dan ia bahkan menambahkan kata-kata “Kisseuhae..Kisseuhae!!”

"Auwh...jincha...aku tak mengenalnya", gumamnya memilih untuk kembali berkutat dengan buku pelajarannya.

***

Kim Donghyun’s apartment

09.00 AM

Dongho membawakan makanan kepada Jihoon yang masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Jihoon meringkuk memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajah diantara kedua lutut. Dongho menarik nafas karena kondisi Jihoon belum juga berubah dari kemarin. “Mokja” Perintahnya pelan, sembari meletakkan nampan berisi makanan di depan Jihoon.

Jihoon tak bereaksi. Ia seperti itu sejak semalam. Kenyataan tentang kedua orang tuanya nampak sanggat mempengaruhi Jihoon.

“Sepanjang pagi .. Park Shiyeon sudah 9 kali menelpon ku, hanya untuk bertanya kondisi mu” Ujar Dongho terus mengajak bicara Jihoon, berharap Jihoon akan segera membaik. Ia menghela nafas panjang “Aku tahu ini sulit untuk mu. Tapi mati tak akan menyelesaikan masalah Jihoon-a. Saat ini nyawa teman-teman mu juga sedang berada di ujung tanduk. Perasaan ku mengatakan kasus ini mungkin bisa semakin besar jika tak segera diselesaikan. Chaeyeon dan keluarganya dapat melakukan apapun.. kau tahu hal itu dengan baik” Ucap Dongho “Keluarga ku juga sama dengan keluarga mu meski kondisinya tak seburuk yang kau alami. tapi.. aku sadar akan kesalahan besar yang ayah ku perbuat. Karena uang ia rela membuang teman-temannya dan mengabdi pada keluarga Chaeyeon.. Mungkin sedikit terlambat untuk meminta maaf.... Aku tahu aku mempertaruhkan keselamatan ku dengan terlibat membantu mereka semua.. tapi membantu mereka adalah hal terakhir yang dapat ku lakukan sebagai wujud permintaan maaf ku atas kesalahan yang ayah ku lakukan di masa lalu” Dongho meletakkan telapak tangannya di pucuk kepala Jihoon “Kita masih bisa memperbaiki banyak hal.. terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Jangan bertindak bodoh.. Mati adalah hal yang mudah. Hidup lah yang sulit.. tapi bukan berarti kau harus menyerah terhadap kesulitan itu. Karena kehadiran setiap orang di dunia ini selalu memiliki arti.. Himnae.. Jihoon-a” Dongho lantas meninggalkan kamar setelah selesai menyampaikan  kata-katanya.

Clek.. pintu kamar tertutup. Jihoon kembali seorang diri disana. Ia mengangkat kepalanya. Tatapan Jihoon amsih begitu nanar seolah tak ada semangat hidup. Ponsel Jihoon yang diletakkan di atas meja oleh Donghyun terus bergetar. Dongho tak berbohong. Shiyeon terus menghubunginya setiap 30 melit sekali. Mungkin itu juga yang Shoyeon lakukan terhadap Dongho karena Jihoon tak mengangkat telpon. Jihoon teringat akan ucapan Shiyeon semalam..

“Aku tidak tau apa yang sedang kau pikirkan saat ini.. Kundae.. Geunyang..”

“Jugjima..Hh.. Jebal”

“Nae Maeumel.. byeonhaji anha.. ajigdo.. Geronika jugjima”

“Shiyeon-a..” Sebut Jihoon sebagai kata pertama yang terkontar dari bibir nya pagi itu. Mata Jihoon terpejam, setetes air mata membasahi pipi nya ketika ia kembali membuka mata. Tangan Jihoon bergerak lemah menggapai sumpit di tas nampan berisi makanan yang tadi Dongho bawa. Meskipun sedikit dan perlahan, Jihoon memasukkan makanan kedalam mulutnya. Sebuah kalimat yang barusan diucapkan oleh Dongho juga membekas dalam diri Jihoon. Sekalipun sulit.. ia akan mencoba untuk melakukannya

“membantu mereka adalah hal terakhir yang dapat ku lakukan sebagai wujud permintaan maaf ku atas kesalahan yang ayah ku lakukan di masa lalu”

***

Boarding House

09.30 AM

Hyungseob membuka pintu kamar dan menghela nafas pelan. "Ya...Yoo Seonho...kau seharusnya ke sekolah", sungut Hyungseob pada Seonho yang sejak semalam menginap di boarding house. Para Hyungdeul dan Noonadeul sudah membujuknya untuk pulang sejak semalam, namun anak itu menolaknya mentah mentah. Beruntung Jihoon sedang tidak ada di sana, sehingga masih ada satu kasur tersisa untuknya.

"Shireoyo", jawab Seonho yang tengah asyik berbaring sambil membaca komik dan memakan cokelat di atas kasur. "Sekolah membuatku stress"

"Ah geunyang jibe ka!!", sungut Hyungseob yang terpaksa bertugas untuk mengurus anak itu karena hanya ia yang tak ke sekolah hari ini.

"Ah Hyung wae guraeyo?? Kau sendiri juga membolos!", balas Seonho sebal.

"Ya! Aku tak membolos! Surat Dokter memintaku beristirahat selama tiga hari!", sungut Hyungseob tak terima.

"Ah guraeyo?", tanya Seonho keki. "Haruskah aku menghantamkan kepalaku juga agar aku mendapat surat dokter?", gumam Seonho.

"Ya neo micheosseo?", tanya Hyungseob. "AH GEUNYANG JIBE KA! Ah na ulgosippeo jincha...", sungut Hyungseob frustasi hingga ingin menangis. Seonho sudah menghabiskan hampir sebagian cemilan di dalam kulkas.

"Shireoyo! Aku tak akan pulang sampai Minhyun hyung kembali dari rumah sakit!",sungut Seonho sebal. Ia kembali merebahkan dirinya di kasur dengan gusar dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

"YA YOO SEONHO!", seru Hyungseob.

"Andeulryeo!", balas Seonho.

"Tch...memangnya Minhyun menyukaimu juga?", sungut Hyungseob sebal lalu berjalan hendak keluar kamar hingga...BLEPAK! Sebuah komik melayang menghantam kepalanya dari arah belakang. "Argh! YA YOO SEON--", belum sempat ia protes, Seonho dengan cepat mendorongnya keluar kamar dan mengunci pintu dari dalam kamar.

"YA I JASHIK! YAAA AKAN KUADUKAN KAU PADA MINHYUN HYUNG!", seru Hyungseob.

"ANDEULRYEOOOO!!", Balas Seonho dari dalam, meneriakkan bahwa ia tak mendengar ucapan Hyungseob.

***

Hospital

10.30 AM

Minhyun selesai membereskan barang barangnya yang tidaklah terlalu banyak. Hari ini sepulang sekolah nanti, anak anak akan menjemputnya kembali ke boarding house. "Kkeut", gumamnya. "Jibe Kalkkeyo?", sapa suara lainnya. Minhyun menoleh dan mendapati Dokter Park berdiri di ambang pintu kamar rawatnya. "Ne", jawab Minhyun singkat.

"Gurae? Palleune", ujar Dokter Park mengatakan bahwa terasa cepat bagi Minhyun untuk pulang sementara ia belum pulih benar.

"Aku tak mau menyusahkan yang lain karena berada terlalu lama di sini", ujar Minhyun.

"Gurae? Arasseo...", ujar Dokter Park.

"Ah...geundae...", gumam Minhyun ragu. "Geu....saramiyeyo....Hwang Minhyunnieyeyo...musun iriyeyo?", tanya Minhyun hati hati.

"Ah...semalam...sesuatu terjadi padanya...entah mengapa tiba tiba ia terluka...hal itu terasa aneh bagiku karena ia dalam keadaan koma...bagaimana mungkin ia terluka?", ujar Dokter Park berpikir. "Ah! mianhae...aku harus segera pergi...aku sudah memiliki janji dengan pasien lainnya", ujar Dokter Park ketika tak sengaja melihat jam di kamar Minhyun.

"Ne...gaseyo", ujar Minhyun. Ia menunggu hingga Dokter Park pergi dari kamarnya dan ia diam diam berjalan keluar dari kamarnya dan menyusuri lorong rumah sakit. Langkahnya terhenti di depan sebuah kamar rawat dan ia memasukinya dengan hati hati. Ia melangkah pelan dan menatap seseorang yang terbujur kaku di depan matanya. Tak banyak yang berubah sejak terakhir kali ia melihatnya kecuali....sebuah plester dan perban yang menutupi sisi kanan keningnya. Minhyun tercekat sesaat. Ia dengan hati hati menyentuh perban tersebut lalu menyentuh perban yang juga menempel di posisi yang sama dengan luka yang dideritanya. Ia lalu teringat ucapan Dokter Park sebelumnya:

"Ah...semalam...sesuatu terjadi padanya...entah mengapa tiba tiba ia terluka...hal itu terasa aneh bagiku karena ia dalam keadaan koma...bagaimana mungkin ia terluka?"

"S-Solma.....apa mungkin...yang terjadi padaku....juga akan menimpa dirinya?", gumam Minhyun tak percaya. "Dan itu juga berarti bahwa....jika aku mati..maka.....i Hwang Minhyunneun....ia juga akan mati?"

** TO BE CONTINUED **

 

 

 


Tags:
Komentar
RECENT FAN FICTION
“KANG MAS” YEOJA
Posted Rabu,16 Juni 2021 at 09:31
Posted Senin,20 April 2020 at 22:58
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 23:42
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:08
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:07
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:07
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:06
Posted Sabtu,20 Juli 2019 at 13:06
FAVOURITE TAG
ARCHIVES