
Sebuah studi komprehensif yang menganalisis 1.182 grup idola K-pop yang debut antara tahun 1996 hingga 2025 mengungkapkan bahwa rata-rata masa bertahan atau "umur" sebuah grup idola hanyalah 4,12 tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa industri idola K-Pop secara kuat menunjukkan struktur persaingan "winner-takes-most" alias pemenang mengambil porsi terbesar.
Temuan ini dipublikasikan pada 30 Juli lalu dalam Journal of the Korea Entertainment Industry Association (Volume 20, Nomor 4). Jurnal tersebut memuat makalah berjudul "Struktur Kelangsungan Hidup dan Hit Industri Musik Idol K-Pop: Analisis Menyeluruh terhadap 1.182 Grup (588 girl group, 594 boy grpup) yang Debut Selama 30 Tahun (1996-2025) Pasca H.O.T.," yang ditulis oleh Kim Jung Seop, Profesor Departemen Industri Budaya dan Seni di Sungshin Women's University.
Penelitian ini tercatat sebagai “analisis menyeluruh pertama” di industri ini. Objek penelitian mencakup seluruh grup yang terdaftar di Asosiasi Industri Musik Populer Korea, terhitung sejak debutnya H.O.T. (1996) dari SM Entertainment, yang dianggap sebagai pelopor sistem industri musik idola terencana, hingga akhir tahun 2025. Metode yang digunakan meliputi analisis statistik presisi, analisis kohort, dan wawancara mendalam dengan para pakar.
Dari hasil analisis, ditemukan tiga karakteristik utama dalam industri K-Pop:
1. Tingkat Kelangsungan Hidup yang Rendah di Awal
Sekitar 45% grup idola terdepak dari pasar dalam kurun waktu tiga tahun pertama, yang setara dengan 42,9% dari standar kontrak eksklusif awal selama 7 tahun. Fase 1 hingga 3 tahun pertama merupakan periode krusial yang menentukan apakah sebuah grup akan bertahan dan terus mendapatkan kucuran investasi.
2. Kesenjangan Pencapaian Hit
Terdapat penurunan drastis jumlah grup saat mereka bertransisi dari tahap semi-hit > hit > mega-hit > mega-seller kumulatif. Hanya segelintir grup yang berhasil mencapai kesuksesan skala besar.
3. Struktur Konsentrasi Pemenang
Para pakar menilai bahwa fenomena ini adalah hasil dari struktur persaingan “pemenang mengambil porsi terbesar” yang tetap bertahan dan bahkan semakin kuat, meskipun terdapat perluasan platform digital dan perubahan struktur fandom (basis penggemar).
Dengan rata-rata 39,4 grup (19,6 girl group dan 19,8 boy group) yang debut setiap tahunnya, persaingan di industri ini mencapai rasio yang sangat ketat, yakni sekitar 40:1.
Profesor Kim menjelaskan, “Kinerja pasar pada 1 hingga 3 tahun pertama pasca-debut sangat menentukan apakah agensi akan melanjutkan investasi mereka di tahun keempat dan seterusnya. Struktur industri yang unik ini menyebabkan banyak grup gagal menyelesaikan masa kontrak eksklusif pertama mereka dan terpaksa mengakhiri aktivitas atau secara de facto bubar.”
Terdapat perbedaan signifikan berdasarkan gender. Rata-rata masa bertahan boy group adalah 5,11 tahun, sedangkan girl group hanya 3,13 tahun. Peneliti menilai perbedaan ini terjadi karena boy group memiliki struktur konsumsi yang berpusat pada fandom wanita yang sangat loyal. Sebaliknya, girl group lebih mengandalkan popularitas di mata publik, serta model pendapatan yang bertumpu pada acara off-air (seperti festival) dan pemutaran lagu digital (streaming).
Secara keseluruhan, tingkat kelangsungan hidup grup idola setelah 3 tahun debut berada di angka 55,03%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tingkat kelangsungan hidup usaha kecil dan menengah (UKM) umum yang berada di angka 41,5%, namun lebih rendah dibandingkan perusahaan rintisan (startup) yang didukung pemerintah (68,1%).
Studi ini juga membedah tingkat keberhasilan berdasarkan penjualan album fisik:
Sinyal Hit (Titik Impas/BEP): Hanya 3,55% (42 grup) yang berhasil melampaui penjualan 300.000 kopi untuk satu album tunggal, yang dianggap sebagai standar untuk menutupi biaya produksi dan pemasaran rata-rata.
Stabilisasi Fandom: Hanya 1,61% (19 grup) yang mampu mencapai penjualan 1 juta kopi untuk satu album, sebuah pencapaian yang menandakan basis pertumbuhan yang berkelanjutan.
Simbol Kesuksesan Jangka Panjang: Hanya 0,68% (8 grup) yang berhasil menembus total penjualan album kumulatif lebih dari 10 juta kopi, yang melambangkan kekayaan intelektual (IP) jangka panjang dan fandom global yang kuat. Kedelapan grup tersebut adalah BTS, SEVENTEEN, Stray Kids, EXO, TWICE, NCT, TXT, dan ENHYPEN.
Makalah tersebut menegaskan bahwa setelah industri K-Pop berkembang, struktur konsumsi berulang dari fandom global berbasis platform digital semakin menguat, sehingga memicu fenomena peningkatan penjualan kumulatif yang hanya terpusat pada beberapa grup papan atas saja.
Para pakar yang terlibat dalam wawancara sepakat bahwa industri K-Pop adalah “industri berisiko tinggi dan berdaya saing tinggi di mana tingkat kegagalan awal yang besar berdampingan dengan segelintir kisah sukses yang luar biasa.” Pasar K-Pop saat ini dinilai tertutup, dengan persentase kelangsungan hidup yang terpusat di atas dan peluang terbatas untuk bangkit kembali setelah gagal.
Untuk mengembangkan industri musik idola K-Pop yang saat ini terpolarisasi baik dalam hal persaingan maupun pencapaian, studi ini merekomendasikan 5 langkah perbaikan utama:
- Penerapan Sistem Pembinaan Jangka Panjang: Membangun sistem pelatihan yang berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang bagi para idola.
- Penyediaan Struktur Kesempatan Kedua: Memberikan ruang atau peluang untuk mencoba kembali bagi mereka yang pernah mengalami kegagalan.
- Dukungan Infrastruktur: Menyediakan infrastruktur yang memadai untuk menekan biaya operasional dan produksi
- Penguatan Verifikasi Pra-Debut: Memperketat seleksi dan verifikasi sebelum debut untuk mencegah munculnya grup-grup idola yang terlalu menjamur tanpa persiapan matang.
- Menyeimbangkan Ekspansi: Menjaga keseimbangan antara ambisi ekspansi pasar global dan kemampuan bertahan di pasar domestik.
(fzh)
