
DREAMERS.ID - Petisi elektronik publik di situs resmi Majelis Nasional yang menuntut penghentian penayangan drama MBC 'Perfect Crown' serta penghapusan total kontennya telah memperoleh lebih dari 50.000 dukungan pada tanggal 26 Mei.
Dilansir dari laman Sports Kyunghyang (26/5), petisi tersebut mencapai ambang 50.000 tanda tangan pada hari kelima sejak dirilis, sehingga memenuhi syarat untuk diteruskan ke komite tetap terkait.
Menurut aturan di Korea Selatan, petisi yang dipublikasikan akan resmi diterima sebagai petisi publik jika dalam 30 hari memperoleh lebih dari 50.000 dukungan, lalu diteruskan ke komite terkait untuk ditinjau.
Setelah melalui subkomite peninjauan petisi, akan diputuskan apakah isu tersebut dibawa ke sidang pleno. Jika disetujui, petisi yang dianggap memerlukan tindakan dari parlemen atau pemerintah akan ditindaklanjuti.
Pemohon menyatakan bahwa meskipun berlatar Korea fiktif, 'Perfect Crown' secara sembarangan mengadopsi busana, tata krama, dan kosakata bergaya Tiongkok, sehingga dianggap sebagai bentuk manipulasi budaya dan distorsi sejarah.
Oleh karena itu, pemohon menuntut penghentian penayangan serta penghapusan total dari layanan VOD dan OTT, serta mendesak dibentuknya mekanisme institusional untuk secara permanen menyingkirkan konten yang memicu kontroversi distorsi sejarah.
Selain itu, Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan juga memulai penyelidikan terkait adanya keluhan mengenai dukungan dana produksi dari Korea Creative Content Agency (KOCCA).
'Perfect Crown' diketahui terpilih sebagai salah satu proyek dalam program dukungan produksi konten OTT tahun 2025 dari KOCCA. Program tersebut memiliki total anggaran 7,5 miliar won untuk 7 proyek, dengan 4 drama terpilih dari 89 proposal.
KOCCA berencana melakukan evaluasi hasil proyek pada bulan Mei, dan jika dinilai tidak memenuhi syarat, dana dukungan dapat ditarik kembali.
Sebelumnya, IU maupun Byeon Woo Seok selaku pemain utama telah merilis permintaan maaf secara resmi melalui akun media sosial masing-masing.
Kemudian sutradara Park Joo Hwan, tim produksi, dan penulis Yoo Ji Won juga meminta maaf dan mengakui adanya kelalaian dalam proses mengadaptasi adat Joseon ke setting modern.
(mth)
